Ketika Stan Culture Jadi Toxic: Ungkap 3 Fandom Paling Toxic yang Meresahkan.
Ratu Tiara | 20 Agustus 2025, 15:32 WIB

AKURAT.CO Fenomena stan culture kini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, dia memperlihatkan dukungan luar biasa terhadap idola. Namun di sisi lain, perilaku penggemar yang terlalu fanatik justru berubah menjadi racun yang merusak citra sang artis maupun komunitas itu sendiri.
Tak jarang, dukungan yang semestinya penuh apresiasi berubah menjadi aksi perundungan, ancaman, hingga intimidasi di dunia maya.
Seiring berkembangnya media sosial, berbagai fandom mulai menonjol dengan jumlah massa yang besar dan loyalitas tinggi. Namun, loyalitas itu sering kali bergeser menjadi obsesi.
Dilansir dari WIRED, beberapa fandom di dunia tercatat sering melakukan pelecehan daring terhadap siapapun yang mengkritik idola mereka. Hal serupa juga dipaparkan oleh Fiction Horizon, yang merilis daftar fandom paling beracun di dunia hiburan modern. Laporan tersebut menegaskan bahwa perilaku penggemar yang tak terkendali dapat berdampak buruk, bukan hanya bagi pihak luar, tetapi juga bagi idola yang mereka bela.
Bahkan, banyak kasus di mana selebritas merasa dirugikan oleh penggemarnya.
Chappell Roan, misalnya, secara terbuka meminta penggemar berhenti melakukan pelecehan atas namanya. Situasi ini menggambarkan bagaimana stan culture tidak selalu membawa kebaikan. Dari berbagai nama yang muncul, inilah 3 fandom yang sering dianggap paling toxic di dunia hiburan.
1. Barbz (Penggemar Nicki Minaj)
Komunitas Barbz kerap disebut sebagai salah satu fandom paling agresif di internet. Menurut WIRED (2018), penggemar Nicki Minaj ini sering melancarkan serangan terhadap wartawan, kritikus musik, bahkan sesama penggemar yang dianggap tidak cukup loyal. Perilaku mereka tidak berhenti pada sekadar debat, tetapi juga ancaman nyata di media sosial.
Barbz dikenal memiliki koordinasi kuat sehingga mampu melakukan serangan massal terhadap siapapun yang menyinggung sang rapper. Kondisi ini menjadikan Barbz bukan hanya sekadar fandom fanatik, melainkan juga simbol bagaimana dukungan bisa berubah menjadi teror.
2. Swifties (Penggemar Taylor Swift)
Di balik kesuksesan Taylor Swift sebagai penyanyi global, komunitas Swifties menyimpan sisi kelam.
Dilansir dari WIRED, 18 Juli 2018, penggemar Taylor Swift dikenal sangat protektif terhadap idolanya. Siapapun yang mengkritik, bahkan sekadar menyampaikan opini berbeda, bisa menjadi sasaran serangan daring dari Swifties. Loyalitas tinggi itu memang berhasil memperkuat posisi Swift di industri musik, tetapi juga menciptakan iklim tidak sehat di media sosial.
Banyak selebritas dan jurnalis yang mengaku enggan membahas isu sensitif tentang Swift karena takut diserang penggemarnya.
3. Bro Army (Penggemar PewDiePie)
Sebagai salah satu YouTuber paling populer, PewDiePie memiliki penggemar fanatik bernama Bro Army. Namun, fandom ini sering dianggap problematik karena membela mati-matian konten PewDiePie, meski beberapa kali sang YouTuber tersandung kontroversi.
WIRED (2018) menulis bahwa Bro Army tidak segan menyerang siapa pun yang mengkritik idolanya. Bahkan, mereka dikenal melakukan spamming, pelecehan daring, hingga kampanye agresif untuk membungkam pihak yang berseberangan.
Bro Army menjadi contoh nyata bagaimana pengaruh seorang kreator bisa menggerakkan massa untuk melakukan tindakan merugikan.
Pada akhirnya, stan culture memang tidak bisa dilepaskan dari era digital dan media sosial. Ketika dukungan berubah menjadi obsesi. Hal itu yang membuat citra negatif bagi idola yang mereka junjung.
Tiga contoh di atas menjadi pengingat bahwa menjadi penggemar seharusnya berarti merayakan karya, bukan mengubah cinta menjadi senjata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









