Siapakah Prajogo Pangestu? Mantan Sopir Angkot yang Jadi Orang Terkaya di RI Berharta Rp846 Triliun

AKURAT.CO Sosok Prajogo Pangestu tengah menjadi sorotan setelah setelah sepekan terakhir harga saham PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) mengalami penurunan hingga 26,58 persen.
Penurunan tersebut secara otomatis membuat saham milik Prajogo Pangestu masuk dalam radar Auto Reject Bawah (ARB). Akibatnya, kekayaannya menyusut sebesar US$ 5,7 miliar atau sekitar Rp 91,2 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.000/US$) dalam semalam.
Saat ini, total kekayaan Prajogo Pangestu diperkirakan mencapai US$ 52,9 miliar (sekitar Rp 846,4 triliun). Dengan total kekayaan ini, ia menempati posisi ke-27 orang terkaya di dunia.
Sementara itu, banyak masyarakat yang penasaran dengan sosok Prajogo Pangestu yang disebut-sebut sebagai orang terkaya di Indonesia, meskipun sahamnya sedang mengalami penurunan.
Hal ini terlihat dalam daftar pencarian Google yang menunjukkan banyak orang ingin tahu lebih banyak tentang Prajogo Pangestu.
Berikut ini informasi lengkap mengenai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai Rp846 triliun.
Profil Prajogo Pangestu
Prajogo Pangestu lahir di Kalimantan pada 13 Mei 1944. Ia merupakan anak dari pedagang getah karet.
Saat masih kecil, Prajogo diberi nama Phang Djun Phen, yang dalam mitologi suku Khek atau orang Tionghoa di Taiwan berarti "Burung besar yang terbang tinggi di awan mendung."
Di sisi lain, anak seorang pedagang karet ini hanya bisa mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah menengah pertama karena keterbatasan ekonomi keluarganya.
Lahir dan besar di Kalimantan, Prajogo Pangestu mengawali karirnya dengan bekerja sebagai sopir angkutan umum jurusan Singkawang-Pontianak.
Tak puas dengan penghasilannya, ia kemudian mencoba bisnis kebutuhan dapur, mulai dari ikan asin hingga bumbu-bumbu.
Pertemuan yang tak terduga dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Burhan Uray, di tahun 1960 membawa perubahan besar dalam hidup Prajogo.
Ia pun memutuskan bergabung dengan PT Djajanti Grup, perusahaan milik Burhan, dan menunjukkan dedikasi serta kerja kerasnya.
Setelah tujuh tahun mengabdi, Prajogo dipercaya untuk menduduki posisi General Manager Pabrik Plywood Nusantara.
Sosok Prajogo Pangestu tengah menjadi sorotan setelah setelah sepekan terakhir harga saham PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) mengalami penurunan hingga 26,58 persen.
Setahun kemudian, Prajogo memutuskan keluar dari Djajanti Group dan membeli sebuah perusahaan kayu yang sedang mengalami krisis finansial, CV Pacific Lumber Coy.
Baca Juga: Prajogo Pangestu, Anak Pedagang Karet yang Jadi Konglomerat Energi Indonesia
Dengan kegigihannya, Prajogo berhasil membangkitkan perusahaan tersebut dan bahkan melunasi pinjaman bank yang digunakan untuk membelinya hanya dalam waktu setahun.
Tak hanya itu, ia juga mengubah nama perusahaan menjadi PT Barito Pacific.
Keberhasilan Prajogo tak berhenti sampai di situ. Ia terus mengembangkan bisnisnya dengan mendirikan PT Chandra Asri Petrochemical Center dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk.
Pada 1993, perusahaan kayunya, Barito Pacific Timber, go public dan berganti nama menjadi Barito Pacific setelah mengurangi bisnis kayunya pada tahun 2007.
Di 2007, Barito Pacific mengakuisisi 70% dari perusahaan petrokimia Chandra Asri, yang juga diperdagangkan di BEI.
Empat tahun kemudian, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.
Pada 2021, Thaioil mengakuisisi 15% saham Chandra Asri.
Dan di 2023, Prajogo kembali menunjukkan kehebatannya dengan membawa dua perusahaannya, CUAN dan BREN, untuk melantai di bursa Indonesia.
Kisah Prajogo Pangestu merupakan inspirasi bagi banyak orang. Dari seorang sopir angkot biasa, ia berhasil menjadi seorang taipan petrokimia yang sukses. Kegigihan, kerja keras, dan visi yang jelas menjadi kunci utama keberhasilannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









