Mengenal Rambu Solo Toraja, Jadi Sorotan Usai Dijadikan Candaan oleh Pandji Pragiwaksono

AKURAT.CO Rambu Solo adalah upacara kematian adat yang sangat penting bagi masyarakat Toraja di Sulawesi Selatan, Indonesia.
Ritual ini bertujuan untuk mengantarkan arwah orang yang telah meninggal dunia menuju alam keabadian atau Puya, dan seringkali membutuhkan biaya yang besar.
Baru-baru ini, upacara sakral ini menjadi sorotan karena dijadikan bahan candaan oleh komika Pandji Pragiwaksono dan memicu kemarahan dari masyarakat Toraja.
Makna dan Filosofi Rambu Sol
Bagi masyarakat Toraja, Rambu Solo bukan sekadar prosesi pemakaman, melainkan memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial dan spiritual mereka.
Dalam kepercayaan tradisional Aluk Todolo, seseorang yang meninggal belum dianggap benar-benar meninggal sampai seluruh rangkaian Rambu Solo selesai dilaksanakan.
Sebelum upacara ini, jenazah akan disemayamkan di rumah keluarga dan dianggap masih dalam keadaan "sakit" atau "tidur".
Tujuan utama upacara ini adalah untuk mengantarkan roh orang yang meninggal menuju Puya, alam keabadian menurut kepercayaan mereka. Jika Rambu Solo tidak dilaksanakan, roh seseorang diyakini akan tetap berada di dunia dan belum bisa beristirahat dengan tenang.
Oleh karena itu, keluarga yang ditinggalkan akan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan upacara ini dengan layak, meskipun memerlukan biaya besar.
Upacara ini mencerminkan nilai kekerabatan, gotong royong, dan kasih sayang dalam masyarakat Toraja.
Baca Juga: Bocoran Spesifikasi dan Harga iPhone 17e: Pakai Chip A19, Harga Mulai Rp9 Jutaan?
Rangkaian Prosesi yang Unik dan Sakral
Upacara Rambu Solo memiliki beberapa tingkatan yang berbeda, tergantung pada status sosial dan ekonomi keluarga yang menyelenggarakannya. Secara umum, prosesi ini melibatkan beberapa tahapan utama, seperti:
1. Ma'tudan Mebalun: Prosesi pembungkusan jenazah dengan kain khusus sebelum dibawa ke tempat persemayaman.
2. Ma'popengkalao: Pengangkatan jenazah ke dalam peti yang akan diletakkan di lumbung atau rumah adat.
3. Ma'pasonglo': Upacara doa dan penghormatan kepada arwah yang telah meninggal.
4. Ma'badong: Tarian dan nyanyian adat yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan dan kesedihan.
5. Pemotongan Kerbau (Tedong Solok): Salah satu bagian terpenting dari upacara ini, di mana sejumlah kerbau dikorbankan sebagai simbol bekal perjalanan roh menuju Puya. Semakin banyak kerbau yang dikorbankan, semakin tinggi status sosial keluarga yang meninggal.
Kerbau Toraja, terutama jenis Tedong Bonga (kerbau belang), memiliki nilai yang sangat tinggi dan bisa mencapai harga ratusan juta rupiah per ekor. Ini adalah salah satu alasan mengapa upacara ini sering kali menjadi sangat mahal.
6. Pemakaman di Tebing atau Kuburan Batu: Jenazah kemudian akan ditempatkan di dalam gua atau tebing batu, sesuai dengan tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Ritual ini bisa berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, karena biayanya yang sangat tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





