Akurat

Lihat Kuku di Tengah Ngobrol? Ini Arti Psikologis di Baliknya!

Rahmat Ghafur | 2 Mei 2025, 12:15 WIB
  Lihat Kuku di Tengah Ngobrol? Ini Arti Psikologis di Baliknya!

 

AKURAT.CO  Pernahkah Anda atau orang di sekitar Anda tiba-tiba menatap kuku sendiri saat berbicara? Sekilas mungkin tampak seperti gerakan tak bermakna, namun dalam dunia psikologi, kebiasaan ini bisa menyimpan sinyal emosional yang cukup dalam. 

Di balik aksi kecil seperti meraba atau memperhatikan kuku, tersembunyi pesan-pesan nonverbal yang bisa mencerminkan rasa bosan, cemas, bahkan sikap meremehkan.

Mari telusuri lebih jauh bagaimana gerakan sederhana ini bisa mencerminkan suasana hati seseorang dalam berbagai situasi sosial.

Baca Juga: Kenapa Orang Menyipitkan Mata Saat Bicara? Ini Menurut Psikologi yang Akurat

Makna di Balik Tatapan ke Kuku

Meski kadang dikaitkan dengan urusan penampilan atau kebersihan diri, kebiasaan memandangi kuku seringkali membawa pesan emosional yang lebih kompleks. 

Ada tiga konteks utama yang bisa menjelaskan perilaku ini:

1. Tanda Bosan: "Aku Ingin Segera Pergi"

Jika seseorang mulai memperhatikan kukunya saat Anda berbicara, bisa jadi mereka kehilangan minat.

Ini adalah cara halus untuk mengalihkan perhatian tanpa terlihat kasar.

Jika dibarengi dengan melihat jam atau menghindari tatapan mata, bisa dipastikan pikiran mereka sudah mengembara.

2. Tanda Cemas: "Aku Tidak Nyaman"

Dalam suasana tegang, gerakan memeriksa kuku bisa menjadi bentuk pelampiasan kegelisahan.

Orang mungkin tanpa sadar menggigit kuku, mengelupas kutikula, atau hanya sekadar mengamati ujung jarinya.

Biasanya ini dilakukan secara tergesa dan disertai gestur stres lainnya.

3. Tanda Tidak Menghargai: "Aku Tidak Peduli denganmu"

Di beberapa kasus, terutama dalam hubungan yang timpang secara status atau kekuasaan, aksi memeriksa kuku bisa menjadi sinyal dingin seolah menyatakan bahwa percakapan itu tidak penting.

Ini bisa terlihat pada atasan yang tidak fokus saat Anda bicara atau teman yang menunjukkan sikap acuh selama mengobrol.

Di sisi lain, satu gestur sebenarnya tidak cukup untuk menilai maksud seseorang. Penting untuk mencermati keseluruhan bahasa tubuh.

Apakah ini kebiasaan yang muncul sesekali atau sering terjadi dalam momen tertentu? Apakah mereka tampak tertutup secara fisik, atau justru santai dan terbuka?

Perlu dicatat juga bahwa isyarat ini bisa bermakna berbeda tergantung kondisi emosional yang mendasarinya. 

Dalam situasi yang membuat tegang, gerakan tersebut bisa muncul sebagai refleks. Namun dalam konteks membosankan, biasanya dilakukan dengan lebih tenang dan disengaja.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Ini 4 Tanda Bahwa Anda Lebih Pintar dari yang Anda Pikirkan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
D