Psikologi di Balik Perselingkuhan: Mengapa Orang Bisa Tergoda?

AKURAT.CO Perselingkuhan sering menjadi momok dalam sebuah hubungan. Banyak orang menganggapnya sebagai bentuk pengkhianatan terbesar yang sulit dimaafkan.
Namun, di balik setiap tindakan selingkuh, ternyata ada alasan psikologis yang lebih dalam. Tak selalu karena bosan atau tergoda orang ketiga, sebagian orang berselingkuh karena ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Dari sudut pandang psikologi, memahami penyebab ini bisa membantu kita lebih bijak dalam menilai dan menjaga hubungan agar tetap sehat serta saling menghargai.
Berikut ini penjelasan lengkap mengenai sudut pandang psikologi di balik perselingkuhan, mengapa orang bisa tergoda meski sudah punya pasangan.
Baca Juga: Kisah Perselingkuhan di Zaman Rasulullah SAW, Apa Hukumannya?
Apa Itu Perselingkuhan dalam Pandangan Psikologi?
Secara sederhana, perselingkuhan adalah ketika seseorang melanggar komitmen emosional atau fisik terhadap pasangannya.
Bentuknya bisa beragam, mulai dari hubungan fisik (seksual), hubungan emosional yang terlalu dekat, hingga micro-cheating, seperti mengirim pesan mesra di media sosial atau menyimpan kontak rahasia.
Menurut psikolog hubungan, perselingkuhan bukan sekadar tindakan fisik, tetapi juga melibatkan ikatan emosional yang terlarang.
Seseorang bisa saja tidak melakukan kontak fisik, tapi sudah berselingkuh secara emosional jika pikirannya terlalu sering tertuju pada orang lain selain pasangannya.
Baca Juga: Kronologi Dugaan Perselingkuhan Hilda Pricillya dan Pratu Risal H Berdasarkan Laporan Internal TNI
Alasan Psikologis di Balik Perselingkuhan
Tidak semua orang yang berselingkuh melakukannya karena tidak cinta lagi. Banyak yang sebenarnya masih sayang pada pasangannya, tetapi ada kebutuhan emosional atau psikologis yang tidak terpenuhi. Berikut beberapa alasan umum yang dijelaskan oleh para psikolog:
1. Kebutuhan Emosional yang Tak Terpenuhi
Salah satu penyebab utama perselingkuhan adalah rasa kosong secara emosional.
Seseorang bisa merasa tidak didengarkan, tidak dihargai, atau kurang diperhatikan oleh pasangannya. Ketika ada orang lain yang memberikan perhatian atau validasi, mereka bisa mudah tergoda.
2. Pencarian Identitas dan Validasi Diri
Ada juga yang berselingkuh karena ingin merasa diinginkan lagi. Menurut psikolog, ini sering terjadi pada orang yang mulai kehilangan rasa percaya diri atau merasa tidak lagi menarik di mata pasangannya. Perhatian dari orang baru bisa membuatnya merasa hidup dan dihargai kembali.
3. Rasa Bosan dan Kurangnya Komunikasi
Hubungan jangka panjang sering kali masuk ke fase monoton. Jika komunikasi berhenti berkembang, keintiman bisa menurun.
Orang yang tidak berani mengungkap kebosanan atau keinginannya dengan jujur sering kali mencari stimulasi baru di luar hubungan.
4. Faktor Lingkungan dan Kesempatan
Beberapa orang berselingkuh bukan karena niat, tapi karena kesempatan terbuka, seperti pertemanan di tempat kerja, media sosial, atau platform online.
Dalam psikologi disebut situational infidelity, yaitu perselingkuhan yang muncul karena situasi mendukung dan kontrol diri melemah.
5. Masalah Pola Keterikatan (Attachment Style)
Gaya keterikatan emosional sejak kecil ternyata berpengaruh besar terhadap hubungan dewasa.
Orang dengan tipe avoidant attachment cenderung takut terlalu dekat dan bisa mencari pelarian saat hubungan terasa intens.
Kesimpulan
Perselingkuhan sering kali bukan hanya tentang mencari orang baru, tapi tentang keinginan untuk menemukan versi diri yang hilang.
Dengan memahami sisi psikologis di baliknya, kita bisa belajar untuk lebih sadar terhadap kebutuhan diri dan pasangan.
Hubungan yang sehat bukan tentang sempurna tanpa masalah, melainkan tentang dua orang yang mau terus belajar memahami dan memperbaiki satu sama lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









