Akurat

RI Capai Swasembada Pangan, Mentan: Berkat Arahan Langsung Presiden Prabowo

Hefriday | 8 Januari 2026, 00:09 WIB
RI Capai Swasembada Pangan, Mentan: Berkat Arahan Langsung Presiden Prabowo

AKURAT.CO Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan yang semula diproyeksikan empat tahun dipercepat menjadi satu tahun.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan, bahwa percepatan swasembada beras bukan hasil kerja satu institusi atau figur tertentu. 
 
"Pencapaian ini lahir dari orkestrasi kebijakan yang terintegrasi, mulai dari hulu produksi, distribusi pupuk, hingga jaminan serapan hasil panen oleh negara. Arahan langsung Presiden Prabowo menjadi pemicu konsolidasi kekuatan lintas sektor," ujarnya di Karawang, Rabu (7/1/2026). 
 
Dalam Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat, yang dihadiri ribuan petani secara luring dan jutaan lainnya secara daring, Amran menyampaikan bahwa tantangan percepatan target dijawab dengan konsistensi kebijakan dan keberanian mengambil keputusan strategis. 
 
 
Perubahan target waktu disebutnya sebagai ujian kapasitas birokrasi dan sinergi antarkementerian.
 
Dukungan lintas kementerian terlihat dari kehadiran jajaran menteri strategis, mulai dari Koordinator Bidang Pangan, Perdagangan, Kelautan dan Perikanan, hingga Agraria dan Tata Ruang. 
 
Sinergi ini memperkuat integrasi kebijakan pangan, dari pengelolaan lahan, produksi, hingga stabilisasi harga di pasar.
 
"Dari sisi data, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional tahun 2025 diprediksi mencapai 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan domestik yang berada di kisaran 30–31 juta ton per tahun," tambah Amran. 
 
Angka ini memperkuat klaim pemerintah bahwa swasembada beras bukan lagi target di atas kertas, melainkan realitas yang ditopang oleh produksi aktual.
 
Peran Perum Bulog juga menjadi penopang utama. Pengadaan beras sepanjang 2025 tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah, dengan pembelian gabah langsung dari petani tanpa batasan kualitas dan harga Rp6.500 per kilogram. 
 
Kebijakan ini memberi sinyal kuat ke pasar bahwa negara hadir melindungi petani sekaligus menjaga stabilitas pasokan.
 
Cadangan beras pemerintah sempat menyentuh rekor 4,2 juta ton pada Juni 2025 sebelum turun ke kisaran 3,25 juta ton di awal 2026 akibat penyaluran untuk bencana dan pengendalian harga. 
 
Meski demikian, level cadangan tersebut dinilai masih aman dan mencerminkan pengelolaan stok yang aktif, bukan pasif menimbun.
 
Pengakuan internasional turut menguatkan posisi Indonesia. Lembaga riset Amerika Serikat, USDA, memproyeksikan produksi beras Indonesia pada musim tanam 2024–2025 mencapai 34,6 juta ton. 
 
Sementara FAO memprediksi produksi dapat menembus 35,6 juta ton pada 2025, menandakan swasembada beras Indonesia mulai diperhitungkan di level global.
 
Dampak swasembada juga tercermin pada kinerja ekonomi. Pada triwulan I 2025, Produk Domestik Bruto sektor pertanian tumbuh 10,52 persen, tertinggi dalam 15 tahun terakhir. 
 
Pertanian kembali menjadi bantalan ekonomi nasional, terutama di tengah ketidakpastian global.
 
Indikator kesejahteraan petani menunjukkan tren serupa. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 mencapai 125,35%, tertinggi sepanjang sejarah. 
 
Kenaikan ini mencerminkan membaiknya daya beli petani seiring harga hasil panen yang lebih menguntungkan dan biaya produksi yang lebih terkendali.
 
Dari sisi regulasi, terbitnya Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Permentan Nomor 15 Tahun 2025 menjadi fondasi penting. 
 
Penyederhanaan 145 aturan memungkinkan distribusi pupuk bersubsidi lebih cepat dan tepat sasaran sejak awal 2025, menghilangkan hambatan birokrasi yang selama ini dikeluhkan petani.
 
Keberpihakan kebijakan diperkuat dengan penurunan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sebesar 20% dan peningkatan penyaluran pupuk hingga 14%. 
 
Kombinasi kebijakan ini menjaga momentum musim tanam dan meningkatkan kepercayaan petani terhadap keberlanjutan program pangan nasional.
 
Lebih jauh, swasembada beras kini dimaknai bukan sekadar kecukupan stok, melainkan instrumen meningkatkan kesejahteraan petani dan daya saing ekonomi. 
 
Dengan ekspor pertanian Januari–Oktober 2025 mencapai USD38,33 miliar dan neraca perdagangan surplus USD18,79 miliar, sektor pertanian Indonesia menunjukkan transformasi dari sektor penyangga menjadi motor pertumbuhan nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa