Akurat

Riset Bos BULOG Jadi Landasan Kebijakan Baru Infrastruktur Pascapanen

Hefriday | 22 November 2025, 19:50 WIB
Riset Bos BULOG Jadi Landasan Kebijakan Baru Infrastruktur Pascapanen

AKURAT.CO Disertasi Direktur Utama Perum BULOG, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, menjadi salah satu contoh langka ketika penelitian akademis langsung diterjemahkan menjadi kebijakan nasional.

Riset berjudul Transformasi Tata Kelola Kolaboratif Pascapanen Padi Berkelanjutan di Indonesia, yang dipertahankan pada 19 November 2025, menjadi landasan kuat dalam percepatan pembangunan infrastruktur pascapanen di berbagai daerah.

Temuan utama riset tersebut mengungkap bahwa fragmentasi sistem pascapanen selama bertahun-tahun menyebabkan potensi kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah.

Kondisi itu membuat penggilingan padi kecil berada dalam posisi rentan, padahal mereka menopang lebih dari 60% suplai beras nasional.

Baca Juga: Bulog Siapkan 100 Gudang Baru Antisipasi Anomali Cuaca

Pemerintah segera menindaklanjuti temuan tersebut. Pada 11 November 2025, hanya delapan hari sebelum sidang disertasi, diterbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri dan kepala lembaga untuk mempercepat pembangunan infrastruktur pascapanen.

Langkah itu disebut para akademisi sebagai contoh nyata kebijakan berbasis sains (science-based policy).

“Penggilingan padi kecil adalah jantung ketahanan pangan Indonesia. Mereka harus dilindungi dari persaingan tidak sehat,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat hadir sebagai dewan penguji dalam sidang tersebut.

Selain SKB, pemerintah juga memfinalisasi draf Peraturan Presiden (Perpres) untuk memperkuat implementasi program kolaboratif ini.

Payung hukum tersebut diperlukan agar kebijakan tidak hanya berlaku jangka pendek, tetapi menjadi strategi nasional yang berkelanjutan.

BULOG, sebagai eksekutor utama program, mulai membangun 100 gudang sebagai pusat ekosistem pascapanen.

Baca Juga: Bulog Pastikan Beras SPHP Berkualitas dan Tepat Sasaran

Gudang ini dilengkapi RMU modern dan mesin pengering dengan skema akses berbayar (pay-per-use). Pendekatan tersebut memungkinkan petani dan penggilingan kecil mengakses teknologi tanpa terbebani biaya investasi.

Menurut Ahmad Rizal, pendekatan yang digunakan bukan model tradisional, melainkan triadic collaboration yang menggabungkan BULOG, petani/penggilingan, dan investor swasta.

BULOG menyediakan jaminan pasar, sementara swasta menyuplai teknologi. Hal ini menciptakan keberlanjutan usaha di tingkat akar rumput.

"Investasi Rp5 triliun untuk pembangunan 100 gudang diprioritaskan di wilayah 3T seperti Morotai dan Nias Selatan," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (22/11/2025).

Pembangunan ditargetkan rampung dalam satu tahun agar dapat dimanfaatkan sebelum panen raya 2026.

Metodologi riset yang digunakan Ahmad Rizal memadukan Soft Systems Methodology-based Multimethod dengan perangkat GIS, clustering analysis, dan Multi-Criteria Decision Analysis.

Pendekatan tersebut dipuji oleh para penguji dari berbagai universitas karena dinilai mampu memetakan persoalan pascapanen secara komprehensif.

Disertasi tersebut juga telah lulus uji kode etik dan sedang dalam proses publikasi di sejumlah jurnal internasional, termasuk Public Performance & Management Review (Scopus Q1) dan Journal of Environmental Science and Sustainable Development (Scopus Q2).

Artikel ilmiah lainnya telah diterima untuk publikasi di Jurnal Pangan (SINTA 2) edisi September–Desember 2025.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi