Akurat

BMKG Prediksi Hujan Melimpah, Kementan Siapkan Strategi Tanam Nasional

Andi Syafriadi | 3 November 2025, 12:50 WIB
BMKG Prediksi Hujan Melimpah, Kementan Siapkan Strategi Tanam Nasional

AKURAT.CO Kementerian Pertanian (Kementan) memanfaatkan momentum puncak musim hujan untuk memperluas area tanam serta memperkuat ketersediaan pasokan pangan nasional.

Langkah ini dilakukan menyusul proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa puncak musim hujan akan berlangsung pada November 2025 hingga Februari 2026 dengan intensitas curah hujan normal hingga di atas normal.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch Arief Cahyono, mengatakan bahwa kondisi cuaca yang diprediksi BMKG merupakan peluang penting bagi sektor pertanian.

Baca Juga: IFAD Apresiasi Kementan Cetak Petani Muda Produktif

“Kementan akan memanfaatkan momentum puncak hujan ini untuk memperluas tanam dan mengamankan pasokan pangan nasional,” ujarnya di Jakarta, Senin (3/11/2025).

Menurut Arief, curah hujan yang tinggi menjadi momentum emas bagi petani untuk meningkatkan produksi. Dengan tersedianya air dalam jumlah cukup, pemerintah memandang musim hujan kali ini sebagai peluang strategis memperkuat ketahanan pangan.

Arief juga menilai prediksi cuaca dan langkah mitigasi yang disampaikan BMKG mencerminkan bentuk sinergi ilmiah yang semakin kuat. Informasi iklim tersebut, katanya, sangat strategis bagi pembangunan pertanian nasional, khususnya dalam penyusunan kebijakan berbasis data.

Dengan dukungan informasi cuaca yang akurat, pemerintah dapat merumuskan kalender tanam nasional yang lebih presisi dan menyesuaikan distribusi sarana produksi pertanian, seperti benih dan pupuk, agar tiba tepat waktu di lapangan.

“Kami berterima kasih kepada BMKG atas dukungan ilmiah yang menjadi dasar kebijakan tanam presisi,” ucapnya.

Kolaborasi antara Kementan, BMKG, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga disebut menjadi kunci kesiapsiagaan menghadapi dinamika iklim.

Baca Juga: KPK Periksa Dirjen Kementan Andi Nur Alamsyah Soal Korupsi Pengadaan Sarana Pengolahan Karet

Arief optimistis Indonesia dapat menjadikan musim hujan tahun ini bukan sebagai tantangan, melainkan peluang menuju kedaulatan pangan yang berkelanjutan.

Sementara itu, BMKG menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan dipicu oleh sejumlah faktor atmosfer, termasuk penguatan Monsun Asia, anomali suhu muka laut positif, serta peningkatan uap air di atmosfer.

Kondisi tersebut memperkaya kelembapan dan mendorong peningkatan intensitas hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa suhu muka laut yang lebih hangat meningkatkan penguapan dan menyediakan uap air dalam jumlah besar.

“Situasi ini menjamin pasokan air permukaan yang melimpah dan dapat dimanfaatkan optimal untuk irigasi pertanian serta pengisian waduk,” kata Dwikorita dalam konferensi pers kesiapsiagaan musim hujan di Jakarta, Sabtu (1/11/2025).

Dwikorita menegaskan bahwa air hujan melimpah pada periode ini dapat menjadi fondasi peningkatan produktivitas pertanian, apabila dikelola dengan baik.

Curah hujan berperan penting dalam memastikan ketersediaan air untuk dua hingga tiga musim tanam ke depan dan mendukung keberlanjutan sawah tadah hujan.

Sebagai upaya antisipasi potensi cuaca ekstrem, BMKG dan BNPB mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Teknologi ini digunakan untuk mengatur distribusi curah hujan agar merata, mengurangi risiko hujan ekstrem di wilayah padat penduduk, serta mengalihkan pasokan air ke kawasan pertanian yang membutuhkan tambahan sumber air.

Menurut Dwikorita, peringatan dini yang dikeluarkan BMKG dapat mengubah potensi bencana menjadi manfaat bagi sektor pertanian.

“Kami memberikan informasi, pemerintah daerah dan masyarakat melakukan aksi dini. Dengan sinergi ini, berkah air hujan dapat berubah menjadi panen raya,” ujarnya.

Data BMKG menunjukkan bahwa operasi modifikasi cuaca di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta telah menunjukkan hasil positif.

Upaya tersebut berhasil menekan risiko banjir di daerah rawan sekaligus menjaga lahan pertanian dari genangan berlebih, sehingga aktivitas tanam dan panen tetap optimal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
A