Bahlil Ungkap Brasil Tertarik Bangun Pabrik Etanol di Tanah Air
Dedi Hidayat | 26 Oktober 2025, 15:36 WIB

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan adanya potensi investor asal Brasil yang akn membangun pabrik etanol di Indonesia.
Adapun, terdapat pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Brasil Y.M. Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Negara, Kamis (23/10/2025).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut dalam pertemuan adanya pembahasan mengenai pengembangan bioetanol. Salah satunya adanya potensi perusahaan dari Brasil membangun pabrik di Tanah Air.
“Semalam saya pas kata tanda tangan yang muncul, semalam kami (dengan Brasil) diskusi. Ada kemungkinan besar (bangun pabrik),” kata Bahlil dikutip, Minggu (26/10/2025).
Bahlil menambahkan, pengembangan industri etanol ini memiliki nilai strategis karena tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menciptakan banyak lapangan kerja di sektor pertanian.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut dalam pertemuan adanya pembahasan mengenai pengembangan bioetanol. Salah satunya adanya potensi perusahaan dari Brasil membangun pabrik di Tanah Air.
“Semalam saya pas kata tanda tangan yang muncul, semalam kami (dengan Brasil) diskusi. Ada kemungkinan besar (bangun pabrik),” kata Bahlil dikutip, Minggu (26/10/2025).
Bahlil menambahkan, pengembangan industri etanol ini memiliki nilai strategis karena tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menciptakan banyak lapangan kerja di sektor pertanian.
Baca Juga: Aturan Mandatori E10 Digodok, Bahlil: Banyak Negara Sudah Gunakan Etanol
“Kalau etanol ini kan dibutuhkan dari singkong, dari jagung, dari tebu. Nah ini banyak menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat pertanian. Tetapi memang harus ada prosesnya itu, mekanisasi teknologi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bahlil menyebutkan bahwa sebelum pabrik etanol dibangun, pemerintah akan memastikan ketersediaan bahan baku terlebih dahulu melalui program penanaman komoditas energi. "Ya paling lama satu setengah tahun, dua tahun,” sebut Bahlil.
Diberitakan sebelumnya, Pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya bensin.
Salah satu upaya yang akan ditempuh adalah rencana penerapan kebijakan mandatori E10, yakni campuran 10% etanol dalam bensin.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kebijakan tersebut merupakan hasil arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang telah memberikan persetujuan awal untuk perencanaan mandatori E10.
“Kalau bensin ini 60% konsumsi bensin kita, itu masih impor. Maka ke depan kita akan mendorong untuk ada E10. Kemarin malam sudah kami rapat dengan Bapak Presiden. Bapak Presiden sudah menyetujui untuk direncanakan mandatori 10% etanol,” kata Bahlil dalam acara detiksore on location di Sarinah, Selasa (7/10/20225).
Bahlil menambahkan penerapan campuran etanol dalam bensin tidak hanya bertujuan menekan impor, tetapi juga memperbaiki kualitas bahan bakar nasional agar lebih ramah lingkungan.
“Dengan demikian kita akan campur bensin kita dengan etanol. Tujuannya apa? Agar tidak kita impor banyak dan juga untuk membuat minyak yang bersih. Yang ramah lingkungan,” tambah Bahlil.
“Kalau etanol ini kan dibutuhkan dari singkong, dari jagung, dari tebu. Nah ini banyak menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat pertanian. Tetapi memang harus ada prosesnya itu, mekanisasi teknologi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bahlil menyebutkan bahwa sebelum pabrik etanol dibangun, pemerintah akan memastikan ketersediaan bahan baku terlebih dahulu melalui program penanaman komoditas energi. "Ya paling lama satu setengah tahun, dua tahun,” sebut Bahlil.
Diberitakan sebelumnya, Pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya bensin.
Salah satu upaya yang akan ditempuh adalah rencana penerapan kebijakan mandatori E10, yakni campuran 10% etanol dalam bensin.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kebijakan tersebut merupakan hasil arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang telah memberikan persetujuan awal untuk perencanaan mandatori E10.
“Kalau bensin ini 60% konsumsi bensin kita, itu masih impor. Maka ke depan kita akan mendorong untuk ada E10. Kemarin malam sudah kami rapat dengan Bapak Presiden. Bapak Presiden sudah menyetujui untuk direncanakan mandatori 10% etanol,” kata Bahlil dalam acara detiksore on location di Sarinah, Selasa (7/10/20225).
Bahlil menambahkan penerapan campuran etanol dalam bensin tidak hanya bertujuan menekan impor, tetapi juga memperbaiki kualitas bahan bakar nasional agar lebih ramah lingkungan.
“Dengan demikian kita akan campur bensin kita dengan etanol. Tujuannya apa? Agar tidak kita impor banyak dan juga untuk membuat minyak yang bersih. Yang ramah lingkungan,” tambah Bahlil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










