Kementan Gandeng Organisasi Hidayatullah Cetak Petani Milenial
Hefriday | 22 Oktober 2025, 21:35 WIB

AKURAT.CO Kolaborasi antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan organisasi Hidayatullah diproyeksikan menjadi langkah strategis dalam memperkuat fondasi pertanian nasional.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menilai, gerakan bersama ini akan menjadi momentum kebangkitan petani muda dan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan baru di bidang pangan dunia.
Dalam acara Munas VI Hidayatullah 2025 di Banda Neira, Amran menekankan pentingnya mengubah paradigma pertanian tradisional menjadi pertanian modern yang menarik bagi generasi muda.
“Kalau seribu kader Hidayatullah bergerak mengelola lahan tidur, kita bisa jadi super power pangan,” tegasnya di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Dirinya menambahkan, kolaborasi antara pemerintah dan ormas Islam dapat mempercepat regenerasi petani. Gerakan ini juga selaras dengan visi pemerintah dalam mencetak petani milenial produktif dan berdaya saing tinggi.
“Gerakan ini bukan hanya soal pangan, tapi soal masa depan bangsa,” ujar Amran.
Kementan, kata Amran, tengah fokus mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan strategis seperti tebu, kakao, kelapa, kopi, mete, dan lada.
Melalui program pengembangan lahan seluas 800 ribu hektare, pemerintah mengalokasikan Rp9,95 triliun dalam Anggaran Belanja Tambahan (ABT).
“Fokus kami bukan sekadar menanam, tapi bagaimana hasil pertanian punya nilai tambah besar,” kata Amran. Ia menegaskan, hilirisasi menjadi kunci agar petani tak lagi bergantung pada fluktuasi harga komoditas mentah.
Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq, menegaskan komitmennya untuk mendukung program tersebut dengan langkah konkret. Hidayatullah, ujarnya, telah memulai proyek cetak sawah seluas 30 hektare di Kalimantan Timur dan akan memperluasnya dalam waktu dekat.
“Kami ingin melahirkan 1.000 petani milenial yang tidak hanya produktif, tapi juga memiliki etos kerja dan semangat kemandirian tinggi,” kata Nashirul.
Dirinya menambahkan, bantuan dari pemerintah harus dibarengi pendidikan dan pendampingan agar benar-benar membangun mental dan wawasan para petani muda.
Menurut Nashirul, pertanian modern dapat menjadi daya tarik baru bagi generasi muda Indonesia. “Kalau pertanian dikemas dengan teknologi dan inovasi, santri pun akan bangga menjadi petani,” ujarnya.
Selain itu, Amran juga menyoroti pentingnya nilai spiritual dan moralitas dalam membangun kemandirian bangsa. Ia berpesan agar umat Islam menjadi penggerak perubahan, bukan sekadar penerima manfaat. “Saya tidak ingin dibayar, ini ibadah saya untuk bangsa,” tegasnya.
Gerakan Hidayatullah di bidang pertanian disebut sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan global. Amran mengungkapkan, Indonesia tidak hanya berfokus pada swasembada, tetapi juga berperan aktif dalam misi kemanusiaan internasional, seperti pengiriman 10.000 ton beras ke Palestina pada Juli 2025.
“Kita ingin menunjukkan bahwa bangsa ini mampu memberi, bukan hanya menerima. Kalau pangan kita kuat, kita bisa bantu negara lain,” katanya.
Baik Amran maupun Nashirul optimistis bahwa kolaborasi pemerintah dan masyarakat melalui ormas Islam seperti Hidayatullah dapat menjadi model pembangunan pangan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan. “Kalau pertanian tumbuh, republik ini akan ikut bergerak,” tukas Amran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










