Akurat

China Minta Jaminan Pasokan CPO hingga Sarang Burung Walet dari RI

Hefriday | 2 Oktober 2025, 13:20 WIB
China Minta Jaminan Pasokan CPO hingga Sarang Burung Walet dari RI

AKURAT.CO Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia (Wamentan RI), Sudaryono mengungkapkan bahwa Republik Rakyat China (RRC) meminta jaminan suplai jangka panjang untuk sejumlah komoditas unggulan Indonesia, mulai dari Crude Palm Oil (CPO) hingga sarang burung walet.

Permintaan itu disampaikan langsung dalam kunjungan Wakil Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan RRC, Maierdan Mugaiti, ke kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta.

Menurut Sudaryono, atau akrab disapa Mas Dar, permintaan China tersebut menjadi bukti nyata bahwa Indonesia kembali menunjukkan posisinya sebagai pemain kunci dalam perdagangan pangan global.

Baca Juga: Serap Hampir 100 Persen Gula Petani, Kementan Siapkan Anggaran Rp1,5 Triliun

"China meminta kepastian pasokan CPO untuk jangka panjang. Mereka melihat kebutuhan minyak sawit di negaranya terus meningkat, sementara Indonesia adalah produsen terbesar di dunia," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (2/10/2025).

Selain CPO, China juga menyampaikan minat terhadap komoditas lain, antara lain karet alam dan sarang burung walet.

Menurut Sudaryono, pengakuan dunia terhadap sawit Indonesia sebagai komoditas strategis harus diimbangi dengan upaya peningkatan produktivitas dalam negeri.

"Kami pastikan produktivitas sawit terus diperkuat, baik untuk kebutuhan domestik, mendukung program energi B50, maupun menjaga agar suplai ekspor tetap terjamin," tegasnya.

Pertemuan bilateral antara kedua negara tidak hanya membahas minyak sawit, melainkan juga membuka peluang kolaborasi pada sektor pertanian lainnya.

Beberapa di antaranya adalah hortikultura unggulan seperti durian, komoditas peternakan, hingga pengembangan ekspor karet alam.

Baca Juga: Anggaran Kementan 2026 Naik Jadi Rp40,14 Triliun, Dorong Swasembada Pangan

Data Kementan menunjukkan, sepanjang tahun 2024 Indonesia berhasil mencatat surplus perdagangan pertanian dengan China sebesar USD1,77 miliar.

Ekspor utama ke negeri Tirai Bambu itu meliputi kelapa sawit senilai USD2,72 miliar, sarang burung walet sebesar USD428 juta, karet USD363 juta, kelapa USD270 juta, dan kakao USD218 juta.

Dengan catatan tersebut, China kini menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia di sektor pertanian. Namun, Sudaryono menekankan bahwa kerja sama tidak boleh berhenti pada angka ekspor semata.

Sebab menurutnya, salah satu hal penting yang perlu diperkuat adalah akses pasar langsung ke China tanpa melalui negara perantara.

Selama ini, banyak komoditas Indonesia seperti durian dan produk unggas diekspor terlebih dahulu ke negara lain sebelum akhirnya masuk ke pasar China.

“Kalau bisa langsung, tentu akan lebih efisien dan memberi nilai tambah lebih besar bagi petani kita. Maka salah satu permintaan dari pihak Indonesia adalah bagaimana ekspor bisa masuk ke China tanpa harus lewat negara ketiga,” jelasnya.

Langkah ini dinilai penting agar nilai ekspor tidak tergerus di tengah rantai perdagangan. Selain itu, akses langsung juga akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok utama komoditas strategis ke China.

Selain kerja sama perdagangan, kedua negara juga menjajaki kolaborasi riset di sektor perberasan. Fokus utamanya adalah pengembangan varietas padi unggul untuk lahan rawa dan wilayah pesisir berair payau.

Menurut Wamentan, meski Indonesia telah menghasilkan sejumlah varietas unggul, peluang untuk belajar dari pengalaman Tiongkok tetap terbuka lebar.

Negeri itu terbukti mampu memberi makan populasi besar sekaligus menekan angka kemiskinan melalui inovasi pertanian.

“Kita ingin bekerja sama dengan siapa pun selama kerja sama itu menguntungkan kepentingan nasional. Bagi sektor pertanian, kepentingan itu adalah meningkatkan produksi, mengurangi impor, menaikkan ekspor, menambah devisa, dan tentu membawa kesejahteraan bagi petani kita,” tegasnya.

Permintaan jangka panjang dari China, lanjut Mas Dar, adalah pengakuan internasional terhadap daya saing komoditas Indonesia.

Minyak sawit, karet, hingga sarang burung walet bukan hanya sekadar produk ekspor, tetapi juga instrumen penting dalam diplomasi ekonomi.

Dengan peran Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia, pemerintah meyakini peluang memperluas pasar akan semakin besar.

Namun, tantangan peningkatan produktivitas dan keberlanjutan harus menjadi perhatian serius.

Mas Dar menambahkan, kerja sama strategis dengan China diharapkan tidak hanya berdampak pada angka perdagangan, tetapi juga memberi manfaat langsung kepada petani.

Pemerintah, kata dia, akan memastikan bahwa peningkatan ekspor tidak mengorbankan kebutuhan dalam negeri.

“Ekspor penting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana petani kita merasakan manfaatnya. Kerja sama ini harus jadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi