Soal Tarif Trump, Mentan Sebut Pasar Ekspor CPO Bisa Dialihkan

AKURAT.CO Saat ini, tensi global dalam hal perdagangan sedang tinggi-tingginya, namun Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tetap optimistis.
Menurutnya, meski Indonesia tengah "diserang" lewat kebijakan tarif impor dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Indonesia tetap punya kekuatan besar khususnya dari sektor pertanian.
“Dengan kebijakan tarif itu, kita nggak perlu takut. Kita punya CPO, kita punya sumber daya alam yang luar biasa. Kalau Amerika menaikkan pajak barang kita, ya tinggal kita atur strategi,” kata Amran dala keterangannya, Sabtu (12/4/2025).
Baca Juga: Panen Raya di Gresik, Mentan Amran Jaga Harga Gabah Petani
Memang, AS baru-baru ini menaikkan tarif impor barang dari Indonesia hingga 32%. Kebijakan ini jelas bikin repot banyak negara, termasuk Indonesia. Tapi buat Amran, ini justru tantangan yang bisa diubah jadi peluang.
Salah satu strategi yang diusulkan adalah dengan menggeser sumber impor pangan, seperti gandum. “Kita ini kan impor gandum sekitar 10 juta ton dari Amerika. Nah, kalau mereka keras, kita bisa cari negara lain. Banyak kok alternatifnya,” ujar Amran santai.
Amran juga menyoroti potensi ekspor CPO (Crude Palm Oil) Indonesia. “Ekspor CPO kita ke Amerika itu cuma sekitar 1,7 juta ton, tapi secara global kita ekspor sampai 26 juta ton. Jadi kalau ekspor ke Amerika turun, kita masih punya banyak pembeli lain. Bisa dialihkan,” jelasnya.
Pemerintah, juga sedang menyiapkan kebijakan besar lain yaitu pengembangan energi berbasis sawit. Program B40 dan B50 campuran solar dengan bahan bakar nabati dari CPO siap digeber dalam waktu dekat.
“B40 akan mulai jalan Januari 2025, dan B50 paling lambat 2026. Ini bukan cuma soal energi alternatif, tapi juga bentuk keberpihakan pada produk dalam negeri,” ujarnya.
Amran yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin ini menyebut bahwa tekanan global seperti ini justru bisa mendorong Indonesia untuk melompat lebih jauh. “Kalau ditekan, kita jadi bereaksi. Dan biasanya, dari tekanan itu muncul inovasi dan kekuatan baru,” tambahnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk para pelaku industri, petani, bahkan wartawan, untuk tidak takut pada tekanan global. “Kalau kalian ditekan, berbahagialah. Karena tekanan itu pertanda bahwa kalian penting. Dan dari situ biasanya lahir lompatan,” ujarnya.
Amran menegaskan bahwa Indonesia tidak akan runtuh hanya karena perang dagang. Justru, ini saatnya untuk menunjukan kekuatan ekonomi berbasis pertanian dan energi terbarukan. “Yang penting kita kompak dan siap berubah,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










