Indeks Unit Value Ekspor RI Naik ke 123,01 pada Agustus 2024

AKURAT.CO Indeks Unit Value Ekspor (IUV) Indonesia menunjukkan variasi yang cukup dinamis pada Agustus 2024. Pada Agustus 2024, indeks unit value ekspor berada di angka 123,01, mengalami kenaikan sebesar 2,09 poin dari bulan sebelumnya, Juli 2024, yang sebesar 120,92, berdasarkan data BPS.
Indeks unit value menunjukkan rata-rata perubahan harga ekspor dari berbagai kategori komoditas, memberikan gambaran perkembangan nilai ekspor Indonesia terhadap pasar internasional.
Beberapa kelompok komoditas utama menunjukkan fluktuasi signifikan dalam indeks unit value ekspor pada Agustus 2024. Pertama, SITC 036 (Krustasea dan Invertebrata Air) Komoditas seperti krustasea dan moluska mencatat penurunan indeks sebesar 5,77 poin dari Juli ke Agustus 2024, dari 108,38 menjadi 102,61. Secara tahunan, jika dibandingkan dengan Agustus 2023, komoditas ini juga turun sebesar 2,01 poin.
Baca Juga: Airlangga: Izin Ekspor Impor Sritex Jalan Terus Untuk Selamatkan Perusahaan
Kedua, SITC 231 (Karet Alam dan Produk Sejenis) Indeks karet alam mengalami kenaikan signifikan, dengan peningkatan 3,92 poin dari bulan sebelumnya, dan lonjakan tahunan sebesar 30,21 poin dibandingkan Agustus 2023. Kenaikan ini menandakan peningkatan permintaan atau harga di pasar global untuk komoditas karet.
Ketiga, SITC 251 (Bubur dan Limbah Kertas) Berbeda dengan karet, kategori ini mengalami penurunan 4,55 poin dari Juli ke Agustus 2024, meskipun secara tahunan mengalami kenaikan sebesar 22,64 poin dibandingkan Agustus tahun lalu.
Terakhir, SITC 283 (Bijih Tembaga dan Konsentratnya) Indeks bijih tembaga melonjak 12,38 poin dari Juli ke Agustus 2024, dan peningkatan tahunan sebesar 27,05 poin dibandingkan dengan Agustus 2023. Permintaan bijih tembaga yang tinggi di pasar dunia mungkin mendorong kenaikan nilai ekspor komoditas ini.
Indeks unit value ekspor batubara (SITC 321) mencatat kenaikan kecil sebesar 1,31 poin dari Juli ke Agustus 2024. Namun, dibandingkan dengan Agustus 2023, indeks ini mengalami penurunan 2,81 poin.
Sebaliknya, komoditas minyak bumi mentah (SITC 333) mencatat penurunan indeks 1,70 poin dari bulan sebelumnya, namun secara tahunan mengalami kenaikan sebesar 12,21 poin, mengindikasikan adanya peningkatan harga ekspor minyak di pasar internasional.
Kategori produk tekstil dan pakaian juga menunjukkan fluktuasi yang menarik. Indeks unit value ekspor untuk benang tekstil (SITC 651) mengalami kenaikan kecil 0,40 poin dari bulan sebelumnya, sedangkan pakaian jadi dari kain tekstil (SITC 842) naik 2,10 poin dibandingkan Juli 2024. Kenaikan di kategori pakaian ini, meskipun tidak terlalu besar, mencerminkan permintaan yang stabil di pasar ekspor tekstil Indonesia.
Perubahan nilai ekspor ini mencerminkan respons pasar global terhadap kondisi ekonomi yang dinamis, serta permintaan berbagai produk Indonesia di pasar internasional.
Peningkatan indeks pada beberapa komoditas, seperti bijih tembaga dan karet menandakan prospek positif bagi sektor-sektor terkait. Sementara penurunan indeks pada komoditas energi, seperti gas alam cair dan batubara mencerminkan tantangan pasar yang harus diatasi.
Dalam situasi ekonomi global yang penuh tantangan, fluktuasi ini menegaskan pentingnya diversifikasi pasar dan pengembangan nilai tambah komoditas ekspor Indonesia.
Ke depan, peningkatan daya saing produk di sektor-sektor yang mengalami peningkatan indeks dapat menjadi prioritas, sementara pemantauan ketat diperlukan untuk komoditas yang menunjukkan tren penurunan dalam indeks unit value ekspor mereka.
Tambahan informasi, pada 2023, indeks unit value ekspor secara keseluruhan tercatat di angka 129,02, mengalami peningkatan sebesar 29,02 poin dari tahun dasar 2018. Namun, indeks ini lebih rendah dibandingkan tahun 2022 yang mencapai 157,72.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










