Akurat

Buka Pasar Ekspor Baru, Kemendag Rencanakan Misi Dagang ke Afrika

Yosi Winosa | 7 Agustus 2024, 18:18 WIB
Buka Pasar Ekspor Baru, Kemendag Rencanakan Misi Dagang ke Afrika

AKURAT.CO Kementerian Perdagangan (Kemendag), menegaskan bahwa meskipun terjadi penurunan impor, pemerintah Indonesia tetap berkomitmen untuk memperluas pasar ekspor guna mengimbangi situasi ekonomi global.

Menurut Sekretaris Badan Kebijakan Perdagangan, Ari Satria, pemerintah sedang melakukan berbagai langkah strategis untuk meningkatkan akses pasar dan mempromosikan produk ekspor. "Pemerintah berusaha keras untuk memperluas pasar ekspor, termasuk melakukan misi dagang ke negara-negara non-tradisional seperti Afrika," ujar Ari di Hotel Borobudur Jakarta pada Rabu (7/8/2024).

Upaya ini merupakan bagian dari strategi untuk menjangkau pasar-pasar baru dan memperluas jangkauan produk Indonesia di tingkat internasional. Saat ini, Indonesia telah memiliki 38 perjanjian perdagangan, dengan 16 perjanjian lainnya masih dalam proses negosiasi, termasuk dengan Uni Eropa. "Kami berharap dengan terbukanya pintu-pintu akses baru, ekspor Indonesia akan menjadi lebih lancar," tambahnya.

Baca Juga: Kemendag Sebut Pemberdayaan Wanita pada Perdagangan Belum Maksimal

Meskipun demikian, Ari juga mengingatkan agar impor tidak mengalami lonjakan yang signifikan, terutama untuk bahan baku dan bahan penolong. Pentingnya promosi sejalan dengan pembukaan akses pasar juga menjadi sorotan Ari.

"Pembukaan akses pasar harus diikuti dengan promosi yang efektif. Jika akses sudah terbuka tetapi promosinya tidak maksimal, maka manfaatnya akan berkurang," jelasnya.

Promosi yang efektif diharapkan dapat mendukung keberhasilan strategi ekspor dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Serta, Ari juga menyinggung stabilitas ekonomi Indonesia saat ini.

Meskipun ada dampak dari situasi global, data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih stabil dengan angka di atas 5% pada kuartal kedua tahun ini. "Kami tidak melihat adanya gejolak signifikan dalam jangka pendek, tetapi perhatian harus difokuskan pada pemerintahan baru yang akan mulai bertugas pada 2025," katanya.

Ari menilai bahwa pemerintahan baru perlu segera menyusun strategi yang lebih cepat untuk meningkatkan kinerja ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks kekuatan ekspor nasional, Ari mengakui bahwa masih ada tantangan yang perlu diatasi.

Salah satu kelemahan utama adalah kurangnya hilirisasi produk. Indonesia masih banyak mengandalkan produk berbasis sumber daya alam seperti batubara dan CPO. "Kami perlu mendorong pengembangan produk ekspor yang lebih bervariasi dan bernilai tambah. Kami berharap bahwa langkah-langkah ini akan membawa dampak positif dan membantu Indonesia mencapai target ekspor yang lebih tinggi di masa depan," imbuhnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.