Program Pompanisasi Kementan Sukses Genjot Produksi Padi

AKURAT.CO Program pompanisasi yang digalakkan oleh Kementerian Pertanian terbukti efektif dalam meningkatkan produksi padi di Indonesia.
Menurut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, program ini telah memperbaiki ketersediaan beras bulanan secara signifikan.
"Program-program peningkatan produksi yang diinisiasi oleh Bapak Mentan sangat intensif dan menyeluruh. Ini juga merupakan langkah strategis untuk menghadapi potensi kekeringan seperti yang pernah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo. Kami percaya, dengan langkah ini, kebutuhan beras akan dapat dipenuhi," jelasnya dikutip Sabtu (27/7/2024).
Program pompanisasi difokuskan pada lahan sawah dengan Indeks Pertanaman (IP) satu yang memiliki sumber air sepanjang tahun, sehingga lahan tersebut hanya bisa ditanami sekali per tahun. Dengan program ini, diharapkan IP dapat meningkat menjadi dua kali atau lebih dalam setahun.
Data terbaru menunjukkan bahwa pompanisasi telah digunakan pada 20.559 unit dengan luas lahan mencapai 582.528 hektar. Program ini direncanakan akan diperluas ke wilayah di luar Pulau Jawa untuk mendukung peningkatan produksi padi secara lebih luas. Pompanisasi berperan penting dalam memudahkan proses tanam petani, sehingga mereka bisa lebih efisien dalam mengolah tanah dan menanam kembali.
Baca Juga: Semua Kepala Daerah Diminta Perkuat Program Pompanisasi
"Kami yakin bahwa dengan kehadiran pemerintah yang tepat waktu, semangat para petani untuk bertanam akan meningkat. Selain itu, kebijakan penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) telah berkontribusi pada peningkatan nilai tukar petani (NTP),"" tambahnya.
Arief mengapresiasi kenaikan hasil panen sebagai bukti keberhasilan program-program peningkatan produksi yang dilakukan Kementan. "Proyeksi terbaru dari KSA BPS menunjukkan bahwa produksi beras di bulan Agustus dan September diperkirakan meningkat, dengan adanya surplus untuk kebutuhan konsumsi bulanan," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Moch Arief Cahyono, menambahkan bahwa selain pompanisasi, Kementan juga fokus pada optimasi lahan dan gerakan tanam padi gogo di wilayah perkebunan.
"Kami terus melaksanakan berbagai upaya untuk menghadapi darurat pangan, terutama dalam menghadapi penurunan produksi yang disebabkan oleh perubahan iklim dan potensi kekeringan," jelasnya.
Arief menegaskan bahwa melalui pompanisasi, masa tanam yang awalnya satu kali setahun dapat meningkat menjadi dua hingga tiga kali setahun. "Lahan-lahan tadah hujan yang biasanya hanya satu kali tanam setahun menjadi fokus utama kami. Kami optimis bahwa kebutuhan pangan Indonesia ke depan bisa dipenuhi dari dalam negeri," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










