Membawa 15 Bangkai Trenggiling, Perempuan Lansia Ditangkap di Bandara Madrid

AKURAT.CO Polisi Spanyol menyelidiki seorang perempuan berusia 60 tahun yang kedapatan membawa 15 bangkai trenggiling (pangolin) di dalam koper saat tiba di Madrid, pekan lalu. Kasus ini terungkap dalam pemeriksaan rutin terhadap penumpang pesawat yang datang dari Addis Ababa, Ethiopia.
Penemuan di Bandara Madrid
Petugas Garda Sipil mencurigai isi koper setelah hasil pemindaian sinar-X di Bandara Adolfo Suárez Madrid-Barajas menunjukkan kejanggalan. Saat diperiksa lebih lanjut, koper tersebut berisi tubuh-tubuh kecil trenggiling yang dibungkus plastik dengan total berat mencapai 40 kilogram.
Otoritas menyatakan perempuan tersebut kini diselidiki atas dugaan “kejahatan terhadap satwa liar”. Seluruh bangkai satwa itu telah diserahkan ke lembaga nasional yang mengatur perdagangan internasional spesies dilindungi untuk diteliti dan dinilai lebih lanjut.
Dalam pernyataan resmi, aparat menegaskan perdagangan ilegal spesies dilindungi merupakan ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati dan dapat dijatuhi hukuman penjara serta denda sesuai hukum pidana yang berlaku di Spanyol.
Trenggiling, Mamalia Paling Diperdagangkan Ilegal
Trenggiling dikenal sebagai mamalia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia. Satwa ini diburu terutama untuk diambil sisik dan dagingnya. Permintaan dari sejumlah negara di Asia, termasuk China, disebut menjadi pendorong utama perdagangan global tersebut.
Sisik trenggiling banyak diminati karena dipercaya—meski belum terbukti secara ilmiah—dapat menyembuhkan berbagai penyakit jika diolah menjadi obat tradisional. Di beberapa wilayah Asia Timur, janin trenggiling bahkan diyakini memiliki khasiat sebagai afrodisiak.
Perdagangan trenggiling dilarang berdasarkan kesepakatan internasional Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), yang juga diikuti oleh Spanyol. Berdasarkan laporan CITES tahun lalu, lebih dari 500.000 trenggiling disita dalam operasi pemberantasan perdagangan ilegal sepanjang 2016 hingga 2024.
Sorotan Global dan Isu Kesehatan
Trenggiling juga sempat menjadi sorotan global karena diduga berperan sebagai inang perantara dalam penularan virus Covid-19. Sejumlah peneliti menyebut trenggiling Guangdong kemungkinan menjadi mata rantai evolusi penting dalam proses adaptasi virus SARS-CoV-2 sebelum menginfeksi manusia.
Meski beberapa laporan menunjukkan tren perdagangan ilegal trenggiling menurun sejak pandemi, para pegiat konservasi menyebut perburuan liar masih terjadi secara masif di sejumlah wilayah Afrika. Kasus di Madrid ini kembali menegaskan bahwa jaringan perdagangan satwa liar internasional masih aktif dan menjadi ancaman serius bagi kelestarian spesies langka.
Sumber: Independent
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





