Akurat

RI Terancam Kemarau Panjang, Kementan Siapkan Program Strategis

Demi Ermansyah | 20 Juni 2024, 18:56 WIB
RI Terancam Kemarau Panjang, Kementan Siapkan Program Strategis

AKURAT.CO Kementerian Pertanian (Kementan) menguraikan langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi musim kemarau panjang yang diproyeksikan akan berdampak signifikan pada sektor pertanian nasional.

Dimana menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmennya untuk menjaga kedaulatan pangan nasional.

"Kami berkomitmen untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian dan kesejahteraan petani di Indonesia," ujar Menteri Amran dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR RI di Jakarta, Kamis (20/6/2024).

Seperti yang diketahui, lanjutnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun 2024 akan berlangsung lama, dari Juni hingga September, dengan puncaknya pada bulan Agustus.

Langkah-langkah antisipatif telah disiapkan sejak awal masa jabatan Amran sebagai Menteri Pertanian pada Oktober 2023. Dengan proyeksi BMKG yang lebih ekstensif, Kementan memperkuat persiapannya dengan mengembangkan program-program strategis.

Baca Juga: Kementan Ajukan Anggaran 2025 Hingga Rp59,7 T, Komisi IV: Negara Tidak Serius

"Beberapa inisiatif yang disiapkan Kementan termasuk peningkatan infrastruktur pompa untuk pengairan lahan sawah tadah hujan, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, optimalisasi penggunaan lahan rawa, serta peningkatan kapasitas dan manajemen waduk/bendungan," jelas Amran.

Teknologi budidaya pertanian hemat air dan gerakan panen air hujan juga diperkenalkan untuk meningkatkan ketahanan pangan terhadap dampak kekeringan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa luas tanam padi selama periode Oktober 2023 – April 2024 sebesar 6,55 juta hektare, mengalami penurunan 3,83 juta hektare atau 36% dibandingkan rata-rata periode yang sama tahun 2015-2019 sebesar 10,39 juta hektare. Penurunan luas tanam ini mempengaruhi luas panen padi dan berdampak pada penurunan produksi padi nasional.

“Kementan bersama stakeholder terkait akan terus mengawasi dan melaksanakan langkah-langkah kesiapsiagaan kemarau dengan cermat untuk mengurangi dampak negatif musim kemarau ke produksi pangan nasional dan memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat,” tutur Amran.

Saat ini, pembangunan pertanian menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat dampak perubahan iklim ekstrim El Nino, konflik geopolitik, dan dinamika ekonomi global. Hal ini menyebabkan restriksi ekspor dari negara-negara produsen pangan, meningkatnya biaya produksi dan harga pangan, serta potensi krisis pangan.

"Kekhawatiran terhadap jaminan produksi, masalah distribusi, dan akses pangan masyarakat perlu menjadi perhatian serius dalam penyediaan pangan bagi seluruh penduduk Indonesia," kata Amran.

Untuk itu, lanjut dia, Kementerian Pertanian (Kementan) fokus melakukan langkah-langkah antisipasi musim kemarau tahun 2024.

Mulai dari pompanisasi lahan sawah tadah hujan, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, optimalisasi lahan rawa, optimalisasi waduk/ bendungan, teknologi pertanian hemat air, dan gerakan panen air pada akhir musim hujan. "Kami berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian serta kesejahteraan petani di Indonesia," ujar Amran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.