Akurat

Perbankan Dominasi Pembelian Kredit Karbon, Ini Alasannya

M. Rahman | 26 September 2023, 14:15 WIB
Perbankan Dominasi Pembelian Kredit Karbon, Ini Alasannya

AKURAT.CO - Sejumlah perbankan tercatat menjadi pembeli kredit karbon pada perdagangan perdana di bursa karbon, Selasa, 26 Mei 2023 berupa unit karbon dari Proyek Lahendong unit 5 dan 6 di Sulawesi Utara tahun emisi 2016 - 2020 milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).

Mereka adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) , PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT BNI Sekuritas, dan PT BRI Danareksa Sekuritas.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi mengatakan maraknya perbankan memburu kredit karbon ini sejalan dengan strategi bisnis mereka yang ingin dinyatakan atau dilabeli sebagai bank yang kuat di segmen green atau sustainable financing.

Baca Juga: Perdana, Bursa Karbon RI Transaksikan 459.914 tCO2e Kredit Karbon

"Untuk mencapai hal tersebut itu juga ada kriteria-kriterianya. Salah satunya kan yang selalu melakukan verifikasi itu lembaga Sustainalytics itu perlu juga perbankan membeli unit karbon yang ada. Terbukti perdagangan hari ini saja ada beberapa bank yang beli bahkan ada bank asing yang dari arahan regionalnya agar membeli," kata Inarno dipantau secara daring, Selasa (26/9/2023).

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia sekaligus Direktur Utama IDXCarbon, Iman Rachman menambahkan tidak mengherankan jika perbankan antusias memburu kredit karbon di bursa karbon. Sebagai gambaran, saat Malaysia meluncurkan bursa karbon mereka, 7 dari 14 pembeli merupakan bank. 

Secara umum perbankan sudah lebih familiar dengan produk bursa karbon seperti Persetujuan Teknis Batas Atas Emisi Pelaku Usaha (PTBAEPU) berupa alokasi kuota (allowance) dengan cap atau batasan tertentu dan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPEGRK) atau kredit karbon. 

"Pada saat kami memperoleh izin dari OJK sebagai penyelenggara bursa karbon 18 September lalu, kami roadshow ke mereka dan industri lainnya. Biasanya untuk sosialisasi perlu waktu yang cukup lama tapi perbankan karena sudah pernah beli di regionalnya mereka lebih cepet nangkep dan sudah lebih familiar dengan produk seperti SPEGRK," imbuh Iman.

Alasan lainnya tentu untuk mengoffset emisi karbon masing-masing perusahaan, lanjut Iman.

Tambahan informasi, selain perbankan, PT CarbonX Bumi Harmoni, PT MMS Group Indonesia, PT Multi Optimal Riset dan Edukasi, PT Pamapersada Nusantara, PT Pelita Air Service, PT Pertamina Hulu Energi dan PT Pertamina Patra Niaga juga tercatat membeli kredit karbon.

Sejak dibuka pada pukul 09.00 WIB, volume perdagangan kredit karbon Lahendong Unit 5 & 6 tersebut telah mencapai 459.953 tCO2e dari 28 trade order, 24 trade match dan 16 registered user di harga Rp77.000. Volume dan harga kredit karbon tersebut masih akan terus bergerak hingga penutupan pukul 15.00 WIB nanti karena sifatnya continous auction

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa