Jokowi Mulai Ditinggalkan Orang-orang Sekelilingnya karena Terlalu Ambisius
Atikah Umiyani | 8 Juni 2024, 12:03 WIB

AKURAT.CO Presiden Joko Widodo disebut sebagai sosok yang ambisius dan kurang perhitungan. Hal ini menjadi penyebab mengapa banyak orang-orang di lingkaran Jokowi yang akhirnya berbeda pendapat bahkan sampai bersebrangan.
Pengamat politik, Ray Rangkuti pun menjabarkan orang-orang yang berbeda pandangan dengan Jokowi, seperti Presiden Terpilih, Prabowo Subianto yang mengkritisi kenaikan biaya kuliah.
Baca Juga: Jokowi Ingin Optimalkan Ekonomi Hijau di RI: Investor Sudah Tak Tertarik dengan Energi Fosil
Kemudian dua pimpinan Otoritas Ibu Kota Nusantara yang mundur secara serentak, dan terakhir Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang punya pandangan berbeda mengenai program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).
Ray mengatakan, Jokowi mulai ditinggalkan oleh orang-orang di sekelilingnya karena banyak program-program yang ambisius, terburu-buru dan kurang sensitif terhadap kondisi dari masyarakat.
"Salah satunya kurang sensitif dengan kondisi yang tengah dialami oleh masyarakat. Ambisi Jokowi yang menggebu-gebu bahkan terlihat seperti menerobos berbagai ketentuan, aturan atau fatsun yang berlaku," kata Ray kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (8/6/2024).
Di sisi lain, Ray menilai, banyak orang yang mulai menyadari bahwa kebijakan-kebijakan Jokowi akhir-akhir ini terlihat sebagai ambisi dan proyek pribadi, bukan mengutamakan kepentingan rakyat.
"Salah satunya adalah pembangunan IKN yang terlihat terlalu dipaksakan untuk dapat diresmikan pada masa kekuasaan Jokowi. Selain itu adalah mengumpulnya kekuasaan di keluarga Jokowi. Gibran jadi wapres, kini anak kedua dan mantu potensial maju di pilkada 2024," tuturnya.
Dalam banyak hal, Ray menyebut sejumlah pencapaian reformasi, satu persatu, rontok di era kekuasaan Jokowi. Seperti terkait dengan KPK, MK, MA, multifungsi TNI, kriminalisasi masyarakat kritis, hingga nepotisme politik keluarga Jokowi dan banyak lainnya.
"Tentu, bagi sebagian orang yang bekerja sama dengan Jokowi oleh karena semangat reformasi, tidak dapat tenang dengan situasi ini. Termasuk di dalamnya, mungkin, Pak Basuki dan Ibu Sri Mulyani. Maka kasus Tapera ini menjadi batu keduanya untuk tampil menyatakan keberatan-keberatan cara Jokowi memimpin bangsa," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









