Akurat

Soal Kekuasaan, Megawati-Jokowi Bak Langit dan Bumi

Roni Anggara | 25 Januari 2024, 17:41 WIB
Soal Kekuasaan, Megawati-Jokowi Bak Langit dan Bumi

AKURAT.CO Perangai Presiden Jokowi yang berubah menjadi sosok ambisius mendekati pemilu hingga perlu dibandingkan karakternya dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Keduanya merupakan pemimpin namun untuk kekuasaan, memiliki perbedaan bak langit dan bumi.

Akademisi dari Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi menilai perbedaan keduanya dapat dilihat dari biografi sosial. Mega memiliki pandangan ekstrem terhadap pembatasan kekuasaan, sementara Jokowi yang berlatar belakang pengusaha, bersikap memanfaatkan peluang.

"Megawati kalau kita lihat sejarahnya dari remaja sampai dewasa selalu berhadapan dengan persoalan etika republik, pembatasan kekuasaan," kata Airlangga, dalam diskusi yang digelar di Kantor Para Syndicate, Jakarta, Kamis (25/1/2024).

Baca Juga: Istana Tegaskan Jokowi Punya Hak Kampanye, Singgung Megawati dan SBY

Menurutnya, Mega punya prinsip teguh terhadap pembatasan kekuasaan karena pengalaman traumatik menyaksikan runtuhnya rezim proklamator, Bung Karno. Ketika mengawali karier politik sebelum memimpin PDIP juga diwarnai langkah yang tak mudah, karena harus berhadapan langsung dengan kekuasaan.

"Megawati kalau kita lihat sejarahnya dari remaja sampai dewasa selalu berhadapan dengan persoalan etika republik, pembatasan kekuasaan," tuturnya.

Sementara Jokowi, lanjut Angga, berasal dari pengusaha yang memanfaatakan peluang (opportunity) dan mengakumulasikannya. Terbukti dari kariernya yang bermula dari Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga menjabat presiden dua periode.

Baca Juga: Pembenaran Kampanye Jokowi Langgar 3 UU dan Tap MPR, Inkonstitusional

Karakter Jokowi melihat peluang, sudah terbukti dari berembusnya wacana dua periode atau perpanjangan masa jabatan. "Ada diskursus tentang tiga periode masa jabatan ada diskursus sama perpanjangan masa jabatan. Itu tidak nyambung dengan etika Republik dengan logika kekuasaan yang berangkat dari perspektif pengusaha," selorohnya.

Dalam urusan Republik, kata Angga, situasi terakhir menunjukkan Mega lebih konsisten dan prinsipil dalam konteks etika bernegara. Sementara Jokowi menjadi sosok yang kontras.

Dirinya menyontohkan karakter dan gaya Mega menjadi satu-satunya elite politik yang menentang ide perpanjangan masa jabatan. "Yang lain elite pada diam semua, siapa yang berbicara, Ibu Mega. Itu menunjukkan kelas Bu Mega dibanding elite politik yang lain, dalam kondisi sekarang. Itu tak bisa kita ingkari," kata dia.

Baca Juga: Setelah Mengaku Bakal Kampanye, Cuti Jokowi Dinanti

Dia meyakini karakter Mega terbentuk bukan hanya dari pengalamannya ketika memulai karier sebagai politisi, tetapi pembelajaran dari Bung Karno. Setidaknya, ada sifat Soekarno yang diwarisi.

Bung Karno menjadi pemimpin yang menolak sistem monarki dan mendorong Indonesia merdeka menjadi negara republik, pada sidang-sidang BPUPKI. "Prinsip-prinsip utama itu dipegang oleh Bu Mega sebetulnya, terlepas beliau tidak seperti bapaknya," ujar Angga.

Karakter Mega yang tidak ambisius juga terlihat ketika menolak maju pada Pemilu 2014 maupun Pemilu 2024. Bahkan tidak memberi tiket untuk putrinya, Puan Maharani menjadi capres.

Baca Juga: Pengakuan Jokowi Bikin Pemilu 2024 Tak Kredibel, Becek dan Hina

"Dengan begitu Bu Mega menunjukkan bahwa ini republik, negara modern demikian juga pemimpinnya harus dipilih melalui standar meritokrasi. Hal ini juga baik untuk Mbak Puan, karena dia tidak menunjukkan bahwa semata-mata princess," ungkapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.