Akurat

PDIP dan PKS Bagai Minyak dan Air, Bisakah Bersatu?

Arief Rachman | 16 Januari 2024, 11:33 WIB
PDIP dan PKS Bagai Minyak dan Air, Bisakah Bersatu?

AKURAT.CO Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah, meragukan isu bergabungnya kubu Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud yang bergulir belakangan.

Sebab bila merunut riwayat keduanya, hubungan partai pengusung keduanya jauh bersebrangan.

“Dalam 10 tahun terakhir, PDIP dan PKS terus menerus menunjukkan kepada masyarakat dan bangsa Indonesia bahwa mereka berbeda bagai minyak dan air. Dan itu betul betul ditegaskan berkali-kali bahwa PDIP dan PKS tidak akan pernah berkoalisi dalam bentuk apapun," kata Fahri kepada wartawan, Selasa (16/1/2024).

Baca Juga: Tantangan dan Strategi, 8 Cara Bagaimana Guru Menyikapi Perubahan Kurikulum

Fahri menyebut bahwa keberadaan PDIP dan PKS sendiri merupakan kutub ekstrem dari polarisasi politik yang terjadi di Indonesia.

"Memang dari pengamatan politik Indonesia yang terpolarisasi secara ekstrem adalah pemilih PKS dan PDIP. Itu nampak sekali bahwa dalam semua pemilu, pemilih dari dua partai ini berada pada spektrum terjauh di kiri dan kanan," jelasnya.

Fahri Hamzah menuturkan kedua partai itu sebagai biang dari ekstrimis kiri dan kanan yang mendorong munculnya tidak paslon yang ada saat ini.

Menurut Fahri, kelompok kanan menarik Anies Baswedan, sementara kelompok kiri ditarik oleh Ganjar Pranowo.

Baca Juga: Viral Mie Gacoan Cabang Kota Cirebon Terdapat Belatung, Diperkirakan Berasal dari Cabai

"Sehingga bisa dikatakan bahwa dua kelompok ini adalah kelompok yang mustahil disatukan oleh adanya perbedaan ideologis yang sangat tajam," tuturnya.

Fahri berpendapat apabila Partai Pendukung Anies Muhaimin dan Ganjar Mahfud benar-benar bergabung, latar belakangnya pasti bukan merujuk pada kepentingan nasional, melainkan pada amarah karena dukungan masyarakat yang terus menciut.

"Keinginan bersatu kedua kelompok dan partai ini pastilah bukan karena gagasan yang rasional, tetapi kepentingan dan kemarahan sesaat yang didorong oleh soal soal lain yang tidak strategis dan tidak berdasar kepada agenda dan kepentingan nasional," ucapnya.

Baca Juga: Kronologi Meninggalnya Ibunda Maxime Bouttier, Ternyata Tutup Usia di Rumah Luna Maya Usai Menginap 2 Malam

Dengan angka elektabilitas yang terus menurun, Fahri meyakini hal ini sebagai tanda berakhirnya politik identitas yang tidak rasional dan hanya didasari emosi sesaat.

"Dapat dikatakan bahwa koalisi PKS-PDIP adalah pertanda dari berakhirnya politik identitas yang tidak rasional yang didasarkan kepada emosi dan kepentingan sesaat, karena jelas akhirnya bergabung. Sesuatu yang secara teoritis mustahil." pungkas Fahri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.