Mengapa Sriwijaya Disebut Kedatuan, Bukan Kerajaan? Simak 4 Hal Berikut Ini

1. Definisi Kedatuan dan Kerajaan
Sebelum membahas lebih lanjut, penting untuk memahami perbedaan antara kedatuan dan kerajaan.
- Kedatuan: Istilah ini merujuk pada sistem pemerintahan yang lebih bersifat federatif dan egaliter. Dalam kedatuan, terdapat pengakuan terhadap otonomi daerah dan kerjasama antara berbagai kelompok etnis dan suku. Kedatuan sering kali memiliki struktur yang lebih inklusif dan melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan.
- Kerajaan: Sebaliknya, kerajaan biasanya memiliki struktur hierarkis yang lebih ketat, dengan raja sebagai pemimpin absolut. Dalam kerajaan, kekuasaan sering kali terpusat dan diwariskan secara turun-temurun.
2. Struktur Sosial dan Politik Sriwijaya
Sriwijaya memiliki struktur sosial dan politik yang mencerminkan karakteristik kedatuan. Beberapa poin penting yang mendukung hal ini adalah:
- Federasi Kota: Sriwijaya terdiri dari beberapa kota pelabuhan yang memiliki otonomi masing-masing, seperti Palembang, Jambi, dan Bangka. Kota-kota ini berfungsi sebagai pusat perdagangan dan memiliki kekuasaan lokal yang signifikan.
- Pengakuan terhadap Berbagai Etnis: Sriwijaya dikenal sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan berbagai budaya dan etnis, termasuk Melayu, Cina, India, dan Arab. Hal ini menciptakan masyarakat yang multikultural dan saling menghormati.
- Sistem Perdagangan yang Terbuka: Sriwijaya mengembangkan sistem perdagangan yang terbuka dan inklusif, di mana berbagai pedagang dari berbagai latar belakang dapat berpartisipasi. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya terpusat pada satu individu atau kelompok, tetapi melibatkan banyak pihak.
3. Pengaruh Agama dan Budaya
Agama dan budaya juga memainkan peran penting dalam penamaan Sriwijaya sebagai kedatuan:
- Buddhisme dan Hindu: Sriwijaya merupakan pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara. Pengaruh agama ini menciptakan sistem nilai yang lebih egaliter dan toleran, yang sejalan dengan konsep kedatuan.
- Seni dan Arsitektur: Karya seni dan arsitektur yang dihasilkan selama masa Sriwijaya menunjukkan pengaruh berbagai budaya, mencerminkan keragaman dan kolaborasi antar etnis. Ini berbeda dengan kerajaan yang sering kali lebih terfokus pada identitas satu kelompok.
4. Pandangan Sejarawan dan Ahli
Banyak sejarawan dan ahli sejarah, seperti Prof. Dr. T. S. Soemantri dan Dr. R. Soekanto, berpendapat bahwa istilah kedatuan lebih tepat untuk menggambarkan Sriwijaya.
Mereka menekankan bahwa kedatuan mencerminkan sifat inklusif dan kolaboratif dari masyarakat Sriwijaya, yang berbeda dari struktur kerajaan yang lebih otoriter.
Sriwijaya lebih tepat disebut sebagai kedatuan daripada kerajaan karena struktur sosial, politik, dan budaya yang dimilikinya.
Dengan sistem pemerintahan yang bersifat federatif, pengakuan terhadap berbagai etnis, serta pengaruh agama dan budaya yang inklusif, Sriwijaya menciptakan masyarakat yang harmonis dan beragam.
Memahami Sriwijaya sebagai kedatuan memberikan perspektif yang lebih dalam tentang sejarah dan warisan budaya Indonesia, serta menunjukkan pentingnya kolaborasi dan toleransi dalam membangun masyarakat yang sejahtera.
Dengan demikian, istilah kedatuan bukan hanya sekadar label, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Sriwijaya pada masa itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat
- 10Panggil Bahlil ke Istana, Prabowo Terima Laporan Penguatan Tata Kelola Migas dan Peningkatan Layanan Energi






