Akurat

Terapi Okupasi untuk Anak Autisme: Manfaat, Tujuan dan Prosesnya

Wahyu SK | 3 Desember 2025, 07:15 WIB
Terapi Okupasi untuk Anak Autisme: Manfaat, Tujuan dan Prosesnya

AKURAT.CO Terapi okupasi menjadi salah satu intervensi utama bagi anak dengan gangguan perkembangan seperti Autism Spectrum Disorder.

Melalui pendekatan yang berfokus pada aktivitas sehari-hari dan kebutuhan sensorik anak.

Terapi ini membantu anak belajar melakukan rutinitas, mengelola rangsangan sensorik serta meningkatkan kemandirian.

Terapi okupasi merupakan bentuk terapi yang ditujukan untuk membantu seseorang mengembangkan, mempertahankan atau memulihkan kemampuan agar dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang bermakna.

Terapi okupasi akan mengevaluasi kemampuan sensorik, kemampuan motorik halus dan kasar, serta keterampilan hidup sehari-hari pada anak autisme.

Melalui terapi okupasi, anak dapat belajar strategi mengatur lingkungan atau menggunakan adaptasi tertentu agar tidak kewalahan sensorik.

Manfaat Terapi Okupasi bagi Anak Autisme

1. Peningkatan kemampuan hidup sehari-hari seperti belajar menyikat gigi, memakai pakaian, memegang alat makan.

2. Pengelolaan rangsangan sensorik melalui aktivitas khusus seperti mengayun, bermain dengan tekstur, atau latihan kesadaran tubuh.

3. Peningkatan keterampilan motorik halus dan kasar dengan koordinasi tangan-mata, keseimbangan, melompat, menulis.

4. Peningkatan kemampuan sosial dan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari dengan membantu anak belajar bergantian saat bermain, memahami isyarat sosial, berinteraksi dengan teman sebaya.

5. Peningkatan kualitas hidup dan kemandirian jangka panjang dapat membantu anak lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah maupun rumah.

Bagaimana Proses Terapi Okupasi Dilakukan?

1. Evaluasi awal oleh terapis okupasi untuk memahami profil anak.

2. Penentuan tujuan yang spesifik dan terukur.

3. Pelaksanaan sesi terapi berupa aktivitas bermain terstruktur, latihan motorik, latihan sensorik, adaptasi lingkungan, dan kolaborasi dengan orang tua/guru.

4. Monitoring dan evaluasi secara berkala untuk melihat kemajuan, melakukan penyesuaian alat atau strategi.

5. Generalisasi ke lingkungan rumah/sekolah.

Orang tua dapat mendukung proses ini dengan melakukan beberapa tips berikut:

1. Libatkan anak dalam aktivitas sehari-hari seperti meminta anak untuk membantu menyiapkan meja makan, memilih pakaian, menyikat gigi bersama.

2. Gunakan visual schedule agar anak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

3. Ciptakan lingkungan yang ramah sensorik seperti kurangi suara bising, berikan pilihan headphone peredam, pakaian yang nyaman.

4. Sisipkan "sensory break" dalam rutinitas harian seperti bermain dengan pasir kinetik, ayunan, pijat ringan setelah sekolah supaya anak bisa reset sensorik.

5. Rayakan kemajuan kecil dengan memberikan pujian atau stiker saat anak berhasil melakukan bagian dari aktivitas mandiri.

6. Konsisten penggunaan pendekatan yang sejalan antarlingkungan agar anak tidak bingung.

Terapi okupasi merupakan intervensi penting yang sangat bermanfaat bagi anak autisme, mulai dari pengembangan kemandirian, pengelolaan sensorik hingga partisipasi aktif dalam lingkungan keluarga dan sekolah.

Dengan pemahaman yang baik dan dukungan konsisten dari orangtua, kemajuan dapat diraih.

Jika Anda memiliki anak autisme dan belum menjalani terapi okupasi, pertimbangkan untuk menghubungi terapis okupasi terpercaya dan mendiskusikan rencana intervensi yang sesuai.

Laporan: Marina Yeremin Sindika Sari/magang

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK