Akurat

Libur Sekolah Dan Fenomena Wisata: Sebuah Bacaan Sosiologi

Aji Nurmansyah | 26 Juni 2025, 12:35 WIB
Libur Sekolah Dan Fenomena Wisata: Sebuah Bacaan Sosiologi

BULAN Juni dan Juli biasanya merupakan periode pariwisata sebagian keluarga Indonesia. Meskipun masih ada perguruan tinggi masih aktif, libur panjang sekolah dasar dan menengah tetap memancing gelombang berwisata ini.

Tentu saja fenomena ini berbeda karakternya dengan arus wisata pasca-Lebaran atau libur nasional singkat. Di mana wisata di masa libur sekolah bisa digunakan untuk memahami evolusi perilaku konsumsi pengalaman masyarakat Indonesia melalui perspektif sosiologis.

Jika kita telisik, terdapat tiga faktor utama mendorong peningkatan signifikan minat berwisata ini: Pertama, Peningkatan Kapasitas Ekonomi. Kita tahu, ada segmen masyarakat kini memiliki disposable income yang lebih besar. Sehingga alokasi pendapatan tidak lagi semata untuk kebutuhan dasar atau minimal. Tetapi alokasinya sudah merambah pada pemenuhan hasrat akan pengalaman baru dan rekreasi.

Baca Juga: Mencari Titik Temu Antara Industri Wisata dan Industri Ekstraktif di Raja Ampat

Kedua, Diversifikasi Destinasi dan Model Wisata. Pasar pariwisata Indonesia mengalami transformasi radikal. Munculnya destinasi dengan variasi ekstrem – mulai dari segi harga, jenis pengalaman, tingkat pelayanan, hingga nilai yang ditawarkan – menciptakan spektrum pilihan yang luar biasa bagi para pelancong.

Konversi variasi ini ke dalam strata harga menghasilkan model pariwisata dari yang sangat terjangkau hingga eksklusif. Konsekuensinya, hampir semua strata sosial menemukan opsi yang sesuai, baik didorong oleh keterbatasan anggaran (budget-driven) atau keinginan dan aspirasi (aspiration-driven). Destinasi dekat dan murah, misalnya, menjadi magnet bagi kelompok menengah-bawah, secara kuantitatif mendominasi lanskap.

Ketiga, Tirani dan Daya Pikat Media Sosial. Harus diakui bahwa media sosial (medsos) telah menjadi katalisator tak terbantahkan saat ini. Ia berfungsi sebagai ruang pamer (showcase) paling demokratis, menggantikan media konvensional yang sebelumnya terbatas bagi kalangan tertentu.

Dorongan untuk terus "update" status, story, atau feed menciptakan kebutuhan konstan akan konten baru. Hal ini bisa dtawar Ketika mengunjungi tempat baru, terlepas dari kedalaman pengalaman atau pencerahan yang didapat.

Meski medsos adalah pedang bermata dua: di satu sisi memenuhi hasrat untuk eksis di ruang publik (self-presentation), di sisi lain mendorong wisata yang terkadang lebih berfokus pada dokumentasi daripada penghayatan (performative consumption).

Karakteristik Nilai dalam Wisata

Wisata pada periode Juni-Juli memiliki karakteristik sosiologis yang unik. Durasi panjangnya memungkinkan perjalanan lebih jauh. Hal ini sering kali dimanfaatkan oleh keluarga kelas menengah-atas untuk "melancong" – ke luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri.

Ini berbeda dengan libur panjang akhir tahun atau Lebaran, yang cenderung melihat pemanfaatan destinasi populer domestik yang lebih terjangkau dan dekat. Periode ini menjadi penanda stratifikasi sosial dalam pola konsumsi wisata.

Dengan Perspektif teori sosiologi pariwisata, kita juga bisa mengkategorisasi perilaku wisatawan berdasarkan nilai yang dicari:

Pertama, Pencarian Kebaruan (Novelty-Seeking). Kelompok ini ketika merencanakan dan mengunjungi sebuah destinasi, menempatkan sensasi pengalaman baru selalu menduduki peringkat teratas.

Maka dari itu, untuk memenuhi hasrat ini, destinasi atau atraksi harus terus berinovasi menawarkan "kebaruan" untuk menarik kunjungan berulang. Ini menjadi tantangan konstan bagi pengelola, mulai dari restoran kecil hingga taman wisata besar.

Kedua, Regenerasi “Diri” Melalui Relaksasi (Rejuvenation). Karena bagi banyak orang, wisata berfungsi sebagai katarsis dari rutinitas kerja yang melelahkan ("gawe yang sudah lowbat"). Maka dengan pergi ke destinasi, tujuannya adalah mengisi ulang energi fisik, mental, dan emosional – sebuah proses "pengisian ulang baterai" (recharging) sebelum kembali ke dunia kerja.

Ketiga, Wisata FOMO (Fear of Missing Out). Selain kedua faktor di atas, tidak jarang berwisata juga didorong dengan rasa FOMO – rasa takut ketinggalan tren. Wisatawan yang mengunjungi suatu tempat terutama karena ia populer di medsos atau dibicarakan banyak orang, bukan karena minat intrinsik yang hadir dari dirinya.

Baca Juga: Kemacetan Destinasi Wisata dan Subkultur Liburan

Makanya, kualitas pengalaman atau kesesuaian dengan preferensi pribadi sering kali menjadi sekunder; sebab yang utama adalah bisa "ceklist" dan berbagi bukti partisipasi dalam tren terkini. Kecenderungan ini kerap mengaburkan pemilihan destinasi yang benar-benar bermakna bagi individu.

Wisata sebagai Cermin Sosial

Dengan penjelasan di atas, geliat pariwisata Indonesia, terutama di momen spesifik seperti libur sekolah, jauh lebih dari sekadar aktivitas ekonomi. Ia adalah teks sosial yang kaya. Meluasnya akses dan diversifikasi destinasi mencerminkan peningkatan kapasitas ekonomi dan fragmentasi selera.

Dominasi medsos mengubah wisata menjadi bentuk performance dan validasi sosial. Motivasi yang beragam – dari pencarian otentisitas hingga penurutan pada FOMO – menggambarkan kompleksitas kebutuhan manusia modern: antara keinginan untuk keluar dari rutinitas, kebutuhan akan pengakuan sosial, dan pencarian makna.

Pemahaman sosiologis ini bukan semata hanya urusan akademis. Bagi pelaku industri, ini adalah peta untuk merancang pengalaman yang relevan. Bagi pembuat kebijakan, ini adalah panduan untuk mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif. Dan bagi masyarakat, refleksi ini mengajak kita untuk lebih sadar: apakah kita berwisata untuk diri sendiri, atau sekadar untuk panggung di layar genggam?

Pada akhirnya, pola konsumsi pengalaman kita berbicara banyak tentang siapa kita, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. [ ]

-----

*Tantan Hermansah, Pengampu Mata Kuliah Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat, UIN Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.