Akurat

Spiritualisasi Mudik dan Over Tourism Wisata Daerah

Afriadi Ajo | 26 Maret 2025, 12:00 WIB
Spiritualisasi Mudik dan Over Tourism Wisata Daerah

MUDIK adalah denyut nadi budaya yang senantiasa memanggil kembali anak-anak negeri untuk pulang. Setiap tahun, menjelang gema takbir Idul Fitri berkumandang, jutaan jiwa meninggalkan riuhnya kota demi menyusuri jalan menuju desa, kota kecil, hingga kampung halaman di pelosok terpencil.

Dengan beragam moda transportasi seperti mobil, sepeda motor, maupun transportasi publik lainnya, para pemudik “berjihad” dengan kemacetan, rasa lelah, bercampur dengan kerinduan untuk segera bersua dengan sodara di kampung halaman. 

Data dari hasil survey Kementerian Perhubungan mencatat, di tahun 2025 diprediksi lebih dari 52% penduduk Indonesia melakukan ritual pulang kampung ini. Pergerakan ini tentu menciptakan gelombang manusia terbesar dalam skala global.

Baca Juga: Wisata Hiburan di Puncak: Tabungan Bencana yang Nyata

Mudik bukan sekadar perpindahan fisik. Ia adalah perjalanan batin, sebuah momentum spiritual sekaligus sosial-budaya, yang menghadirkan nuansa hangat pertemuan keluarga, menghidupkan kenangan masa lalu, sekaligus memperkokoh akar tradisi bangsa.

Dalam gerak masif ini pula, pariwisata tumbuh subur secara organik di banyak wilayah. Destinasi-destinasi wisata lokal yang selama ini mungkin luput dari perhatian tiba-tiba mendapat kunjungan luar biasa.

Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, selama periode mudik Idul Fitri tahun lalu, kunjungan wisatawan domestik meningkat sangat tajam. Hal ini terjadi karena pasar oleh-oleh khas daerah, penginapan kecil dan menengah, hingga wisata kuliner lokal merasakan berkah besar dari fenomena mudik.

Di kawasan seperti Yogyakarta, Solo, Sumatera Barat, hingga daerah-daerah di Jawa Timur, ekonomi pemudik menghadirkan rezeki baru, menggeliatkan roda kehidupan masyarakat yang sehari-harinya mungkin tidak seintensif masa-masa liburan. Uang dari “orang kota” benar-benar menggenjot perekonomian lokal, meski sesaat.

Berkah dari para pemudik ini memang begitu diharapkan. Meski sebagian besar masih seputar untuk memenuhi ledakan kebutuhan konsumtif saja, namun tetap saja efek berlapis dari aliran dana tersebut berdampak positif bagi ekonomi daerah.

Namun, di balik manisnya ekonomi dan indahnya pertemuan keluarga, mudik membawa tantangan tersendiri. Banyak pemudik yang datang kemudian menraktir keluarganya di kampung untuk mengunjungi berbagai destinasi lokal yang ada. Mereka seperti satu hati untuk mendatangi berbagai titik.

Akibatnya, beberapa destinasi, yang biasanya tenang dan asri, tiba-tiba harus menanggung beban besar dari fenomena yang kini dikenal sebagai over tourism. Di lokasi-lokasi wisata seperti Malioboro, Pantai Pangandaran, Bandung, Garut, Gunung Bromo, hingga Bukittinggi, kepadatan manusia yang luar biasa sering kali melampaui kapasitas daya dukung lingkungannya.

Over tourism saat mudik tidak hanya menyebabkan kemacetan panjang, tetapi juga kerusakan lingkungan, polusi, hingga ketidaknyamanan sosial bagi warga lokal. Pada titik ini, mudik menghadirkan dilema baru: bagaimana menyelaraskan tradisi pulang kampung dengan tanggung jawab menjaga kelestarian destinasi wisata lokal?

Kita sebagai bangsa harus merenung lebih dalam. Di satu sisi, kita bersyukur bahwa tradisi mudik telah membuka ruang bagi perkembangan pariwisata lokal. Namun di sisi lain, kita juga harus bijak menjaga agar destinasi tersebut tidak kehilangan pesonanya.

Mungkin kini waktunya kita mulai mengembangkan konsep pariwisata yang lebih berkelanjutan saat musim mudik, seperti promosi destinasi alternatif yang belum populer, pembatasan jumlah pengunjung di lokasi tertentu, serta edukasi masif kepada pemudik agar bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Mudik, pada akhirnya, harus dimaknai tidak hanya sebagai pulangnya jiwa kepada akar budaya, tetapi juga sebagai langkah bijak manusia Indonesia menjaga harmoni dengan alam dan sesamanya. Karena sesungguhnya, mudik adalah panggilan batin, tetirah ruhani, primordialisasi jiwa, untuk selalu kembali kepada asal yang penuh kasih, penuh rasa hormat, dan penuh tanggung jawab. [ ]

------

*Dr. Tantan Hermansah, M.Si.
(Dosen Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat UIN Jakarta)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.