Liburan, Wisata, dan Amplifikasi Sosial

DALAM beberapa hari ini—dan mungkin beberapa hari ke depan—liburan sekolah yang berimpit dengan Natal dan Tahun Baru kembali hadir sebagai peristiwa sosial tahunan. Ia berulang, tetapi tidak pernah benar-benar sama. Setiap tahun, liburan membawa wajah baru, bukan karena kalender berubah, melainkan karena cara kita mengalami realitas telah bergeser.
Kali ini, liburan tidak lagi semata jeda dari rutinitas. Ia menjelma menjadi ruang ekspresi sosial, bahkan arena pertunjukan. Ada dorongan yang kian menguat untuk memperbarui status, mengunggah foto, merekam video, dan membagikan momen. Liburan tidak cukup dialami; ia harus ditampilkan. Tidak cukup hadir; ia harus terlihat.
Di titik inilah, kita dapat membaca fenomena liburan melalui kacamata Jean Baudrillard—sosiolog Prancis yang lama mengingatkan bahwa masyarakat modern hidup bukan dalam realitas itu sendiri, melainkan dalam simulasi realitas.
Wisata sebagai Simulakra
Membaiknya kondisi ekonomi bagi sebagian kelompok masyarakat, ternyata berlarian dengan meningkatnya hasrat berwisata. Dan ini tidak ada kaitannya dengan kelas sosial ekonomi masyarakat. Kelas kaya, menengah, atau miskin sekalipun, semua sama. Hasrat untuk mengunjungi sebuah destinasi, apalagi jika viral dan terjangkau, maka seperti ada kewajiban mendatanginya.
Dari sudut ekonomi makro, ini tentu sinyal positif. Bank Indonesia bahkan mencatat puluhan triliun rupiah uang beredar selama masa liburan, menggerakkan konsumsi dan pariwisata.
Namun, bagi Baudrillard, konsumsi modern tidak berhenti pada fungsi. Ia bergerak pada tanda. Wisata hari ini bukan semata perjalanan fisik, melainkan konsumsi simbolik: tentang kebahagiaan, keberhasilan, dan “kehidupan yang layak ditonton”.
Destinasi wisata lalu berubah menjadi apa yang oleh Baudrillard disebut sebagai simulakra—ruang yang nilainya bukan lagi pada pengalaman riil, melainkan pada citra yang beredar. Pantai, gunung, taman hiburan, bahkan antrean panjang, tidak lagi sekadar fakta, tetapi materi visual yang siap dikonsumsi publik.
Sebab saat ini adagium wisata sudah berubah, di mana kita pergi berwisata bukan hanya untuk berada di sana, tetapi untuk membuktikan bahwa kita pernah berada di sana.
Negara membaca dinamika ini dengan cukup jeli. Berbagai kebijakan adaptif—bekerja dari mana saja, fleksibilitas kehadiran, hingga kelonggaran administratif—pada dasarnya menjaga satu hal: arus liburan tidak terganggu. Bukan semata demi kenyamanan warga, tetapi demi kelancaran sirkulasi ekonomi dan citra stabilitas sosial.
Bahkan di tengah keprihatinan nasional akibat banjir dan longsor di berbagai wilayah, arus wisata tetap berjalan. Ini bukan karena masyarakat abai terhadap penderitaan, melainkan karena logika simulasi bekerja lebih kuat daripada logika empati langsung. Bencana hadir di layar sebagai informasi, sementara liburan hadir sebagai pengalaman yang sudah dijadwalkan, dibayar, dan—yang terpenting—akan ditampilkan.
Dalam istilah Baudrillard, realitas penderitaan dan realitas kesenangan hidup berdampingan dalam hiperrealitas: sama-sama nyata di layar, tetapi tidak menuntut respons yang sama di dunia nyata.
Amplifikasi Sosial dan Produksi Hiperrealitas
Kehadiran media sosial mempercepat semua ini. Kepadatan destinasi, antrean panjang, kemacetan menuju lokasi wisata—semuanya segera menjadi konten. Warga dunia maya dengan sigap mengunggah informasi, memperbesar peristiwa, dan menyebarkannya lintas platform.
Di sinilah amplifikasi sosial bekerja. Informasi tidak lagi netral; ia diperbesar, dipilih, dan diberi emosi. Sebuah spot wisata tidak ramai karena banyak orang datang, tetapi karena banyak orang melihat bahwa banyak orang datang. Keramaian menciptakan keramaian berikutnya.
Baudrillard menyebut kondisi ini sebagai precedence of the image—ketika citra mendahului kenyataan. Kita datang karena gambar, bukan karena kebutuhan. Kita menghindar bukan karena pengalaman, tetapi karena video viral.
Liburan pun berubah menjadi sirkuit tanda: cepat, instan, dan terus berulang.
Antara Otentisitas dan Ilusi Kebenaran
Di satu sisi, amplifikasi sosial memberi akses informasi yang luas. Publik bisa mengetahui kondisi destinasi, cuaca, kepadatan, bahkan suasana emosional di suatu tempat tanpa harus hadir langsung. Informasi tampil apa adanya, tanpa kurasi institusional.
Namun, di sisi lain, justru di situlah jebakannya. Apa yang tampak otentik sering kali adalah otentisitas yang telah dipentaskan. Kamera menyaring realitas, sudut pandang memilih cerita, dan algoritma menentukan mana yang layak dilihat.
Publik merasa mendapat kebenaran, padahal yang diterima adalah kebenaran versi layar—bukan kebohongan, tetapi juga bukan realitas sepenuhnya.
Penutup: Liburan di Era Tontonan
Amplifikasi sosial, dengan demikian, bukan sekadar gejala teknologi. Ia adalah struktur sosial baru yang membentuk cara kita berlibur, memahami wisata, dan memaknai kebahagiaan. Dalam masyarakat tontonan ala Baudrillard, yang penting bukan lagi apa yang kita alami, tetapi apa yang bisa ditampilkan.
Liburan tetap sah. Wisata tetap penting. Solidaritas tetap berjalan. Namun, di tengah semuanya, ada satu pertanyaan reflektif yang patut diajukan: apakah kita masih berlibur untuk diri kita sendiri, atau untuk layar yang menunggu untuk dipuaskan?
Pertanyaan ini tidak menuntut jawaban cepat. Ia hanya meminta kita berhenti sejenak—sebelum mengunggah. []
------
*Tantan Hermansah, Pengajar Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat UIN Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






