Akurat

Connecting Media Massa: Evolusi TV Berita di Masa Depan

Eko Krisyanto | 20 Mei 2025, 15:34 WIB
Connecting Media Massa: Evolusi TV Berita di Masa Depan

 

TV BERITA dulu raja informasi, kini harus berebut pengaruh dengan audiensnya sendiri. Konten TV berita dulu seperti peluru menembus dan memengaruhi pikiran manusia, kini audienslah sutradaranya. Dari semua sektor, industri TV berita sudah kalah.

Bagi pegiat TV berita, tidak mudah menerima kondisi industri media massa saat ini. Desakan revisi UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran yang mengatur prinsip-prinsip penyelenggaraan penyiaran di Indonesia diharapkan bisa membawa aneka platform global itu ke dalam lapangan pertandingan yang sama.

Padahal, antara TV berita konvensional dengan aneka platform global (YouTube, Facebook, Instagram, TikTok, dll.) adalah dua makhluk yang berbeda dengan habitat yang berbeda.

Keduanya tak bisa dihadap-hadapkan sebagai lawan tanding, bukan karena tak sebanding, tetapi karena memang beda makhluk.

Pertama, kekuatan dan kekuasaan TV berita tersentralisasi pada perusahaan, media baru bebas dimiliki dan digunakan siapa saja. Kedua, produksi dan distribusi konten TV berita dilakukan bertahap, berlapis, dan butuh waktu, sedangkan media baru menihilkan kurasi dan bisa segera dipublikasikan.

Ketiga, TV berita menahan audiens di satu platform yang disebut stickiness, media baru mendorong audiens menyebarkan konten ke banyak tempat oleh pengguna atau yang disebut spreadable.

Baca Juga: Kabar Duka, Suami Najwa Shihab Meninggal Dunia

Stickiness vs Spreadable

Henry Jenkins dalam Spreadable Media: Creating Value and Meaning in The Networked Culture (2013), menyebut stickiness media adalah cara konsumsi konten yang membuat pengguna tetap berada pada satu platform atau pasif.

Sedangkan spreadable media adalah kemampuan konten untuk menyebar antar pengguna lintas platform dalam berbagai konteks alias aktif.

Cara kerja stickiness media ini dilakukan oleh TV berita. Mereka membuat konten dengan strategi "menarik", "eksklusif", berharap audiens loyal mengonsumsi di satu platform konvensional. Audiens sesungguhnya tak punya kontrol terhadap konten itu.

Sedangkan spreadable media, kekuatan konten bukan terletak pada pertama kali dipublikasikan, tetapi bagaimana konten itu bertransformasi dan berpindah secara sosial. Audiens punya kontrol atas konten dan distribusi konten yang selama ini dikendalikan perusahaan media massa.

Menurut Jenkins (2013), spreadable media memunculkan the value of media engagement pada audiens. Pertama, keterlibatan audiens berada pada proses kultural, sosial, emosional ketika konten menyebar.

Kedua, audiens adalah pengguna aktif yang memiliki kapasitas nyata memproduksi, memengaruhi, mendistribusikan konten, mengakses platform secara adil.

Saat mengonsumsi konten TV berita yang stickiness, audiens kehilangan makna dirinya. Audiens tak memiliki engagement kultural, sosial, emosional terhadap konten TV berita yang stickiness.

Publikasi konten pertama di layar TV pun tak mampu mendorong audiens untuk melakukan spreadable karena ketiadaan instrumen untuk itu.

Sementara pada aneka platform global, audiens sekaligus agen spreadable merasakan makna dampak penyebaran konten yang dilakukan.

Makna itu bersifat reward, yaitu kepuasan menjadi bagian dari "sistem sirkulasi pertunjukan" atau "hadiah" untuk memperkuat relasi komunitas sosial.

Baca Juga: Etana Raih Izin Penting untuk Dua Produk Strategis, Perkuat Langkah Menuju Kemandirian Industri Farmasi

Sebagai contoh, video aksi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di YouTube KDM. Saat publik melihat aksi KDM di YouTube, muncul value of engagement media dalam diri audiens.

Audiens bisa merasa terwakili secara sosial, kultural, partisipatif oleh aksi-aksi Dedi Mulyadi saat turun ke lapangan.

Value engagement lainnya, audiens ingin merasakan keterlibatan dan kepuasan dari sirkulasi "pertunjukan media" itu.

Audiens dengan sadar menjadi agen spreadable konten video KDM karena ada makna untuk memperteguh relasi komunitas sosial mereka.

Konten itu bisa spreadable karena platformnya memiliki instrumen untuk itu. Pada titik ini audiens bisa jadi sutradara atas konten itu sendiri.

Sementara TV berita mengemas konten YouTube KDM dengan format siaran mereka, dengan batas toleransi redaksi, jangkauannya kalah dibanding konten-konten organik di media baru yang sudah spreadable lebih dulu.

Kemasan TV berita itu masih bersifat stickiness karena tidak ada instrumen spreadable. Value engagement media secara sosial pun tak terbentuk.

Saat spreadable media vs stickiness media terjadi, maka TV berita benar-benar sudah kalah karena tidak bisa menyaingi kekuatan aneka platform global.

Bukan berarti lantas media baru itu lebih benar, tetapi kehadirannya telah mengubah cara orang mengonsumsi media termasuk berita. Bahkan breaking news pun pertama kali hadir di tangan audiens, bukan hasil produksi redaksi.

TV berita konvensional tak lagi jadi layar pertama bagi audiens. Ini bukan hanya soal kalah cepat, tetapi ketiadaan value of media engagement audiens pada platform yang stickiness media.

Saat TV berita membuat konten dari informasi yang sudah viral, TV berita hanya menjadi second screen bagi audiens yang sifatnya legitimasi dan validasi atas konten viral itu.

Melihat wajah TV berita hari ini, seperti petinju di sudut ring yang berdiri bersandar di pojok, kewalahan dan lemas.

Tangannya hanya bisa memegang ring agar tidak jatuh tetapi membiarkan wajahnya terbuka babak belur dihantam jabdan hook bertubi-tubi oleh aneka media baru.

Baca Juga: Dikepung Legiun Asing, Egy Maulana Vikri Satu-satunya Wakil Lokal di Nominasi Pemain Terbaik Liga 1

Apa yang harus dilakukan?

Pertama, dunia TV berita hari ini tidak lagi siapa yang memegang kamera, tetapi siapa yang bisa membuat orang peduli, menyunting realitas bersama, dan menyebarkan.

Di sinilah peran dan posisi media konvensional sebagai second screen sekaligus instrumen validasi suatu konten. Konsekuensinya, TV berita tak lagi jadi layar utama audiens. Ini berdampak pada volume bisnis dan pendapatan dari sektor iklan yang akan menurun.

Kedua, multikonten untuk multiplatform. Redaksi mengemas banyak konten untuk banyak platform dengan aneka platform global sebagai layar pertama publikasi konten beritanya.

Tetap menggunakan kekhasan jurnalis dan redaksi yang memiliki kurasi. Konten dikemas agar spreadable dan bisa memunculkan value of media engagement kepada audiens.

Ketiga, kolaborasi terbuka dengan audiens yang memiliki sumber-sumber informasi pertama agar mau berbagi informasi dengan redaksi TV berita. Layar media baru TV berita harus bisa jadi etalase publikasi konten milik audiens sebelum diteruskan ke layar second screen yang stickiness.

Audiens tak punya newsroom tetapi mampu mempublikasi konten-konten berita, maka TV berita punya kemampuan lebih dari itu karena TV berita punya “gudang” sirkulasi informasi.

Salah satunya bisa bermain tagar untuk menyerap dan menghimpun informasi baru. Maka ketika breaking news pertama kali hadir di tangan audiens, itu diakses dari layar pertama TV berita di aneka platform global.

Bagi pegiat TV berita, tidak mudah menyerahkan dominasi layar TV konvensionalnya kepada aneka platform global. Hubungan keduanya masuk zona frenemy, “friend” sekaligus “enemy”.

Media baru jadi teman karena digunakan untuk saluran jangkauan baru TV konvensional, tetapi juga menjadi musuh karena merusak pasar dan mengambil penonton media konvensional.

Hari ini konten media tak lagi diciptakan untuk dikonsumsi diam-diam, tetapi untuk didiskusikan, diubah, dan dibagikan. Maka di masa depan, konten TV berita harus dirancang untuk bisa menyebar bukan hanya ditonton. If it doesn't spread, it's dead.

Baca Juga: Jokowi Akan Perlihatkan Ijazahnya Saat Diminta oleh Hakim

Spreadable media membuat konten tidak lagi jadi barang distribusi korporat tetapi sebagai proses sosial.

Awak redaksi TV berita sudah harus bekerja dengan budaya konvergensi, multikonten, dan multiplatform dengan tools yang terkoneksi aneka platform lain. Maka if it doesn't work mobile, it doesn't work.


Taufan Hariyadi
Jurnalis Televisi, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Prof HAMKA Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.