Akurat

Dinamika Politik Global Diprediksi Makin Memanas, Pemerintah Harus Tingkatkan Kewaspadaan

Atikah Umiyani | 11 Januari 2026, 18:27 WIB
Dinamika Politik Global Diprediksi Makin Memanas, Pemerintah Harus Tingkatkan Kewaspadaan

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia diminta untuk terus meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi perkembangan situasi politik global. Sebab, situasi global saat ini diprediksi akan terus memanas.

Peristiwa tak terduga diprediksi tidak berhenti pada peristiwa pengerahan tentara Amerika Serikat (AS) untuk menyerang Venezuela, menculik dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, serta istrinya dari sebuah negara berdaulat.

"Dinamika politik global nampaknya akan semakin memanas. Banyak peristiwa tak terduga yang tidak pernah terpikirkan terjadi. Kita tidak tahu peristiwa tak terduga apalagi," kata Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik, di Jakarta, Minggu (11/1/2026). 

Baca Juga: Kadin Siapkan 4 Agenda Strategis Awal 2026 Hadapi Ketidakpastian Global

Mahfuz lantas mencontohkan situasi ketegangan di dalam negeri Iran, di mana terjadi demonstrasi besar-besaran yang menentang rezim.

"Di Iran sekarang ada operasi untuk melakukan pergantian rezim. Fenomena demonstrasi makin meluas dan anarkis. Skenario pergantian rezim hanya tinggal menunggu waktu,” katanya. 

Bahkan, AS juga berencana untuk menguasai Greenland, Denmark dalam rangka mengontrol wilayah utara dan arktik dari pengaruh Rusia dan China, setelah sukses mengamankan wilayah selatan, dengan menguasai Venezuela.

"Greenland ini pintu masuk ke Eropa untuk menghadang kekuatan militer Rusia dan China yang sedang membangun jalur sutranya di arktik" ujarnya.

Greenland akan dijadikan basis militer AS di Eropa untuk melemahkan kekuatan militer Rusia. "Amerika saat ini tengah percaya diri karena pembelaan Rusia dan China terhadap para sekutunya tengah lemah. Tidak hanya ke Iran, tetapi kelainnya juga, sehingga Venezuela bisa dikuasai dengan mudah," ujarnya.

Menurutnya, Donald Trump selaku Presiden AS, ingin mengembalikan kejayaan AS sebagai satu-satunya negara superpower dunia, yang tidak perlu taat pada aturan lembaga atau negara di dunia.

Baca Juga: Megawati Kecam Keras Intervensi Militer AS di Venezuela: PDIP Tolak Neokolonialisme

"Saya kira tindakan Trump yang keluar dari 66 lembaga global PBB ini harus dibaca sebagai pesan kuat bagi PBB," katanya.

Dia lantas menilai PBB sudah tidak punya makna lagi, dan tidak punya otoritas untuk mengatur Amerika. AS akan rekonstruksi tatanan global sesuai kebijakan politik luar negerinya, termasuk memerangi negara lain yang menjadi musuh mereka.

"Dalam bahasa Trump itu tidak ada negara non dan blok, tapi yang ada kawan atau lawan. Kalau anda kawan kami, maka kita kerjasama untuk kemakmuran bersama. Tetapi ketika ada lawan, maka kami lawan," katanya. 

Karena itu, PBB harus segera mereformasi dirinya secara lebih fundamental. Kemudian menciptakan satu tatanan dan aturan main global yang baru multipolarisme.

Mahfuz menegaskan, bahwa kebijakan domestik dan politik luar negeri AS yang diterapkan Trump sekarang seperti pengulangan sejarah pasca perang dunia I dan II yang diterapkan Presiden AS sebelumnya.

"Sehingga kita perlu mendiskusikan kembali kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat sekarang. Bagi kita ini mendesak, karena dalam konteks dinamika politik global nampaknya akan semakin memanas," katanya.

Dia berharap agar negara-negara Islam perlu mencari format baru, untuk menyatukan kekuatan politik Islam yang dinilai semakin melemah dari hari ke hari. 

"Sekarang perlu kesadaran kolektif, bahwa umat Islam negara muslim harus bangun mengkonsolidasi kekuatannya untuk menghadapi dinamika politik global. Yakni untuk mengembalikan tren multi polarisme," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.