Aceh, Sumut dan Sumbar Kehilangan Hutan hingga Ribuan Hektare dalam Tiga Dekade

AKURAT.CO Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, mengungkap penurunan drastis tutupan hutan di Aceh dan sejumlah wilayah lain di Sumatera, selama lebih dari tiga dekade terakhir.
Dia menegaskan, kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memperparah bencana banjir di kawasan utara Sumatera dalam beberapa hari terakhir.
"Kami ingin sampaikan bahwa dalam kondisi tersebut di Aceh terjadi pengurangan tutupan hutan dari tahun 1990 sampai 2024 sebesar 14 ribu hektare. Tentu angka ini sangat berpengaruh," kata Hanif dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Baca Juga: Bencana Terus Berulang, Pemerintah Harus Evaluasi Total Kebijakan Perizinan Pengelolaan Hutan
Sementara itu, kerusakan serupa juga terjadi di daerah aliran sungai (DAS) penting di dua provinsi lain. Di Batang Toru, terdapat pengurangan hutan sampai 19.000 hektare. Selanjutnya di Sumatera Barat, kehilangan hutan hingga 10.521 hektare.
Menurutnya, intensitas hujan dari siklon yang memicu banjir kali ini jauh lebih tinggi dibanding sejumlah bencana hidrometeorologi besar dalam setahun terakhir. Curah hujan tersebut lebih tinggi dibanding bencana banjir Ciliwung pada Februari lalu, dengan curah hujan tercatat 147 mm, sehingga menewaskan 17 orang.
Kemudian, bencana hidrometeorologi di Bali pada Agustus lalu yang mencatat curah hujan mencapai 245 mm yang menewaskan 21 orang. Hanif memperingatkan skenario lebih buruk jika fenomena serupa terjadi di Jawa.
Baca Juga: Bencana Banjir dan Longsor, MUI Ingatkan Pelaku Usaha agar Tidak Merusak Hutan
"Untuk siklon di utara dari Sumatera ini, jumlah volume hujannya dua kali dari kejadian yang ada di Ciliwung, sehingga dengan demikian kita juga patut memproyeksikan seandainya siklon ini berada di Jawa, maka potensi bencananya akan sangat besar," ujarnya.
Unruk itu, dia menegaskan perlunya tindakan cepat tanpa menunggu kesepakatan global terkait iklim.
"Untuk itu tentu keberadaan pimpinan rapat ini harus kita inisiasi untuk melakukan langkah-langkah adaptasi terkait dengan konteks ini. Kita tidak mungkin menunggu selesainya perundingan internasional, tetapi bencana telah berada di depan kita," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







