Akurat

Menko Yusril: Indonesia Harus di Garis Depan Satukan Dunia Melayu Dunia Islam

Paskalis Rubedanto | 24 Oktober 2025, 13:26 WIB
Menko Yusril: Indonesia Harus di Garis Depan Satukan Dunia Melayu Dunia Islam

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Permasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan Indonesia memiliki peran strategis sebagai pusat peradaban Dunia Melayu dan Dunia Islam. 

Menurutnya, konsep Dunia Melayu tidak hanya mencerminkan identitas etnik, tetapi merupakan wujud kebudayaan dan peradaban Islam yang telah mengakar kuat di berbagai negara.

"Dunia Melayu Dunia Islam itu sesuatu yang sangat menarik. Konsep Melayu bukan konsep etnik, tetapi konsep budaya dan agama. Melayu didefinisikan sebagai orang yang bertutur bahasa Melayu, mengamalkan adat Melayu-Islam, dan beragama Islam,"ujar Yusril, dikutip Jumat (24/10/2025). 

Baca Juga: DPD RI Dorong Diplomasi Budaya Lewat Convention Dunia Melayu Dunia Islam ke-23

Dengan pemahaman tersebut, Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk menjadi lokomotif kebangkitan peradaban Melayu di era modern.

"Kalau kita menggunakan konsep itu, maka banyak sekali orang Melayu di dunia ini. Saya sudah bertemu keluarga besar Melayu mulai dari Cape Town di Afrika Selatan sampai ke Tonga di Pasifik," ungkapnya.

Yusril menambahkan, kesamaan bahasa, tradisi, dan nilai antara bangsa-bangsa rumpun Melayu menjadi modal kuat untuk membangun diplomasi budaya yang lebih luas.

Baca Juga: Rudianto Manurung: Dari Tanah Melayu Menuju Panggung Dunia

"Bahkan masyarakat Okinawa dan penduduk asli Taiwan masih satu rumpun dengan Melayu. Banyak kesamaan kosa kata antara bahasa Tagalog dan bahasa Melayu. Ini menunjukkan akar kebudayaan kita sangat dalam dan luas," jelasnya.

Dia berharap, konvensi ke-23 DMDI yang diselenggarakan di Jakarta menjadi momentum kebangkitan dunia Melayu dan Islam, serta memperkuat kerja sama lintas negara serumpun dalam bidang kebudayaan, pendidikan, dan ekonomi.

"Indonesia harus berada di garis depan dalam menyatukan Dunia Melayu dan Dunia Islam. Ini bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi bagian dari diplomasi kebudayaan dan politik luar negeri yang memperkuat posisi Indonesia di tingkat global," tutup Yusril.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.