BDS Indonesia dan Aplikasi Boycat: Transformasi Gerakan Boikot di Era Digital

AKURAT.CO Gerakan boikot sebagai bentuk protes non-kekerasan kini memasuki babak baru. Di Indonesia, kolaborasi antara gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) dengan platform teknologi seperti aplikasi Boycat menandai pergeseran signifikan dari aksi konvensional ke aktivisme digital yang lebih luas dan terorganisasi.
Muhammad Syauqi Hafiz, co-founder BDS Indonesia, menegaskan bahwa gerakan ini memiliki tujuan yang selaras dengan BDS global.
“Tujuan utamanya sama dengan BDS global, yaitu terkait gerakan sipil non-kekerasan untuk melawan pelanggaran hukum internasional oleh Israel yang diimplementasikan dalam bentuk gerakan sipil, dalam bentuk boikot, kemudian divestasi untuk korporasi dan sanksi untuk pemerintahan,” jelasnya belum lama ini.
Namun, cara penyampaian pesan dan mobilisasi massa telah bertransformasi drastis. Syauqi mengakui bahwa media sosial menjadi tulang punggung strategi edukasi mereka.
“Kami sangat bergantung dengan media sosial. Ketertarikan dan perhatian untuk mengetahui BDS sangat tinggi di medsos,” ungkapnya.
Platform seperti X dan Instagram menjadi saluran utama untuk menjangkau audiens yang beragam, dari usia belasan hingga 40-an tahun.
Kolaborasi dengan aplikasi Boycat yang dimulai sekitar 2024 menjadi salah satu pilar utama strategi digital ini.
Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna memindai barcode produk untuk mengetahui afiliasi sebuah perusahaan dengan Israel.
Hal ini memudahkan konsumen yang ingin membuat keputusan pembelian yang sejalan dengan prinsip mereka tanpa harus melakukan riset mendalam.
Baca Juga: BDS Indonesia Dorong Pembentukan RUU Boikot
“Dampak paling nyata dari kolaborasi dengan Boycat adalah menjadi alternatif masyarakat untuk lebih aware dengan prioritas BDS, bahwa gerakan boikot itu besar dan banyak opsi kriteria yang bisa dipilih,” kata Syauqi.
Menurutnya, aplikasi ini membantu mengedukasi dan membuat publik familiar dengan kriteria BDS yang sebenarnya.
Boycat mengklasifikasikan produk ke dalam tiga level untuk memandu konsumen.
Pada level pertama, yaitu prioritas BDS, terdapat produk dari perusahaan yang terbukti terlibat langsung dan dituduh memberikan dukungan kepada militer Israel.
Level kedua mencakup perusahaan yang terhubung atau memiliki kaitan bisnis signifikan. Level ketiga adalah koneksi luas untuk perusahaan dengan afiliasi yang lebih jauh.
Syauqi menegaskan, BDS Indonesia tidak pernah membuat target sendiri.
“Kami tidak pernah bikin target sendiri. Semua verifikasi produk, kemudian penelitian, dan seterusnya itu dilakukan oleh tim kami di pusat, di BDS National Committee,” jelasnya.
Dengan sistem kategorisasi ini, gerakan boikot tidak lagi bersifat pukul rata.
Baca Juga: PPKE FEB UB: Pemerintah Perlu Susun Roadmap IHT yang Komprehensif
Konsumen diberi pilihan berdasarkan tingkat keterlibatan perusahaan, memungkinkan mereka untuk membuat keputusan yang lebih terinformasi dan sesuai dengan nilai pribadi mereka.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi menjadi akselerator gerakan sosial modern, di mana aktivisme tidak lagi hanya terjadi di jalanan, tetapi juga di genggaman tangan melalui pilihan-pilihan kecil di rak belanja yang secara kolektif diharapkan dapat membawa perubahan besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










