Akurat

Kenapa Cuaca Panas Akhir September 2025 Terasa Ekstrem? Ini Penjelasan BMKG

Naufal Lanten | 29 September 2025, 20:21 WIB
Kenapa Cuaca Panas Akhir September 2025 Terasa Ekstrem? Ini Penjelasan BMKG

AKURAT.CO Cuaca terik yang melanda berbagai wilayah Indonesia pada akhir September 2025 membuat banyak orang mengeluh. Suhu udara terasa jauh lebih menyengat dari biasanya, bahkan menimbulkan pertanyaan: apakah fenomena ini disebabkan oleh kulminasi matahari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun memberikan penjelasan ilmiah mengenai kondisi panas belakangan ini.

Kulminasi: Fenomena Matahari Tepat di Atas Kepala

Kulminasi adalah peristiwa ketika matahari berada tepat di titik zenit suatu lokasi di bumi pada tengah hari. Dalam kondisi ini, sinar matahari jatuh tegak lurus ke permukaan bumi sehingga panas yang diterima mencapai maksimum.

Indonesia yang berada di jalur khatulistiwa mengalami kulminasi dua kali setahun, yakni pada bulan Maret dan September. Berhubung posisi matahari tepat di atas kepala, bayangan benda hampir menghilang—itulah sebabnya fenomena ini juga dikenal sebagai Hari Tanpa Bayangan.

Ketika kulminasi terjadi, suhu udara terasa lebih tinggi, apalagi jika langit sedang cerah tanpa banyak awan. Radiasi matahari yang langsung menembus ke permukaan bumi membuat udara di sekitarnya menjadi lebih panas dan gerah. BMKG menyebutkan, kondisi seperti ini adalah hal yang wajar setiap pergantian musim di Indonesia.

Faktor Lain di Balik Cuaca Panas

Meski kulminasi menjadi salah satu penyebab meningkatnya suhu, BMKG menegaskan ada faktor atmosfer lain yang membuat cuaca akhir September 2025 terasa lebih terik dari biasanya. BMKG menyatakan adanya kemunculan pusat tekanan rendah di utara Indonesia, tepatnya di sekitar Laut Cina Selatan dan timur Filipina. Gangguan atmosfer ini memicu terbentuknya badai tropis Bualoi.

Fenomena tersebut menarik uap air keluar dari wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan seperti Pulau Jawa. Akibatnya, pembentukan awan menjadi sangat minim dan langit tetap cerah sepanjang hari. 

Dengan sedikit awan, sinar matahari bersinar langsung tanpa penghalang, membuat suhu permukaan meningkat dan udara terasa kering. Kondisi ini berbeda dengan cuaca panas biasa karena efeknya bisa lebih menyengat, terutama jika angin bertiup lemah dan kelembapan udara rendah.

Panas Bukan Selalu Pertanda Hujan

Banyak masyarakat beranggapan bahwa udara yang gerah menandakan hujan akan segera turun. Namun, BMKG menegaskan anggapan ini tidak selalu benar. Suhu panas menjelang musim hujan memang umum terjadi karena awan hujan belum cukup terbentuk. Dengan langit yang relatif bersih, energi matahari menembus langsung hingga ke permukaan bumi sehingga udara terasa lebih pengap.

BMKG memprediksi cuaca terik kali ini hanya berlangsung sementara. Curah hujan diperkirakan akan kembali meningkat setelah badai tropis Bualoi dan pusat tekanan rendah di Laut Cina Selatan melemah atau hilang sama sekali. 

Prospek Cuaca 29 September – 2 Oktober 2025

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia dalam periode 29 September hingga 2 Oktober 2025 akan mengalami cuaca berawan hingga hujan ringan. Namun, beberapa daerah tetap perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, kilat, petir, hingga angin kencang.

Wilayah dengan kategori Siaga Hujan Lebat antara lain:

  • Sumatera Selatan

  • Kalimantan Barat

  • Papua Tengah

  • Papua Pegunungan

Sementara potensi angin kencang diperkirakan terjadi di:

  • Aceh

  • DKI Jakarta

  • Banten

  • Jawa Barat

Meski sebagian wilayah diprediksi akan diguyur hujan, daerah yang berada di jalur kulminasi tetap akan merasakan suhu panas yang cukup ekstrem hingga fenomena atmosfer global kembali normal.

Tips Menghadapi Cuaca Terik

Untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan panas berlebih, BMKG mengimbau masyarakat untuk:

  • Memperbanyak minum air putih agar tidak dehidrasi.

  • Menggunakan pakaian yang nyaman dan berwarna terang.

  • Menghindari aktivitas luar ruangan pada siang hari jika tidak mendesak.

  • Menggunakan pelindung seperti topi atau payung ketika beraktivitas di luar ruangan.

Kesimpulan

Cuaca panas yang melanda Indonesia pada akhir September 2025 adalah kombinasi dari fenomena kulminasi matahari dan gangguan atmosfer berupa badai tropis Bualoi yang memengaruhi pola pembentukan awan. Kondisi ini membuat sinar matahari menyinari permukaan bumi secara langsung tanpa banyak penghalang, sehingga suhu udara terasa jauh lebih menyengat.

BMKG menegaskan bahwa panas ekstrem ini bersifat sementara. Setelah gangguan atmosfer melemah, curah hujan diperkirakan kembali normal seiring masuknya awal musim hujan di sejumlah wilayah. Jadi, meski cuaca terik sempat membuat aktivitas terasa berat, fenomena ini merupakan bagian alami dari siklus tahunan iklim tropis Indonesia.

Baca Juga: AI Ubah Ramalan Cuaca, Bantu Petani Hadapi Perubahan Iklim

Baca Juga: PT Timah Catat Penurunan Produksi Timah Akibat Cuaca dan Alat

FAQ

1. Apa penyebab utama cuaca panas ekstrem akhir September 2025?
Cuaca panas dipicu kombinasi fenomena kulminasi matahari dan gangguan atmosfer berupa badai tropis Bualoi yang menarik uap air ke utara Indonesia, sehingga pembentukan awan berkurang dan sinar matahari langsung menyinari permukaan bumi.

2. Apa itu kulminasi matahari?
Kulminasi adalah fenomena ketika matahari berada tepat di atas kepala (titik zenit) pada tengah hari, sehingga bayangan benda menghilang dan panas matahari terasa maksimal. Di Indonesia, kulminasi terjadi dua kali setahun, biasanya pada Maret dan September.

3. Apakah cuaca panas ini menandakan musim hujan akan segera tiba?
Tidak selalu. BMKG menegaskan panas ekstrem tidak otomatis menandakan hujan akan segera turun. Suhu tinggi menjelang musim hujan lebih disebabkan minimnya pembentukan awan, bukan tanda hujan dalam waktu dekat.

4. Mengapa badai tropis Bualoi memengaruhi cuaca di Indonesia?
Badai tropis Bualoi menimbulkan pusat tekanan rendah di utara Indonesia yang menarik uap air ke arah Laut Cina Selatan dan timur Filipina. Akibatnya, pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia menurun, membuat langit cerah dan panas terasa lebih menyengat.

5. Daerah mana saja yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem pada periode 29 September–2 Oktober 2025?
BMKG memprediksi hujan lebat dapat terjadi di Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Potensi angin kencang juga mengancam Aceh, DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

6. Sampai kapan cuaca panas ini diperkirakan berlangsung?
BMKG memperkirakan cuaca terik hanya berlangsung sementara dan akan mereda setelah badai tropis Bualoi serta pusat tekanan rendah di Laut Cina Selatan melemah.

7. Bagaimana cara menjaga kesehatan saat cuaca sangat terik?
Disarankan untuk minum air putih lebih banyak, mengenakan pakaian ringan berwarna terang, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, dan mengurangi aktivitas luar ruangan pada siang hari.

8. Apakah fenomena ini berbahaya?
Secara umum fenomena kulminasi tidak berbahaya, namun paparan panas ekstrem dapat memicu dehidrasi, heatstroke, dan masalah kesehatan lainnya jika tidak diantisipasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.