Mantan Direktur Pelanggaran HAM Berat Kejagung: Soeharto Layak Diberikan Gelar Pahlawan Nasional

AKURAT.CO Presiden Ke-2 RI, Soeharto, adalah sosok pemimpin yang rendah hati dan merakyat sehingga memperoleh gelar Bapak Pembangunan.
Demikian dikatakan mantan Direktur Pelanggaran HAM Berat Kejaksaan Agung, DR. Erryl Prima Putra Agoes, di tengah-tengah kesibukannya mengikuti seleksi Calon Hakim Agung Kamar Pidana di Palembang, Senin (5/5/2025).
Dia menanggapi itu di tengah pro dan kontra atas usulan gelar pahlawan bagi Soeharto yang saat ini sedang dikaji oleh Kementerian Sosial.
Sebagai mantan Direktur Pelanggaran HAM Berat Kejagung dan mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Utara, Erryl Agoes menyebut bahwa pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto sangat layak dan pantas. Atas jasa-jasanya semasa hidup.
"Pak Harto itu sangatlah layak dan pantas diberikan gelar pahlawan. Tanpa beliau, mungkin bangsa Indonesia telah dikuasai oleh PKI," ujarnya.
Baca Juga: DPP AMPI Dukung Soeharto Jadi Pahlawan Nasional: Warisan Perjuangan Hidup dalam Semangat AMPI
Erryl Agoes juga memuji sosok Soeharto sebagai seorang yang sangat tegas karena keberaniannya dalam menumpaskan Gerakan 30 September, yang saat itu kondisi negara dihadapkan oleh situasi sangat sulit.
"Sebagai Presiden RI saat itu, Pak Harto sangat tegas dan berani mengambil keputusan dalam menumpaskan G30S," katanya.
Erryl Agoes pun memuji kepemimpinan Soeharto pasca-G30S yang dapat membawa Indonesia menjadi bangsa yang diperhitungkan di dunia.
Dengan menjaga stabilitas ekonomi, swasembada pangan serta kedaulatan NKRI di tengah maraknya kepentingan asing untuk mencoba kedaulatan bangsa.
"Setelah G30S PKI, Pak Harto mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang diperhitungkan di dunia. Stabilitas perekonomian terjaga, Indonesia berhasil swasembada pangan dan berhasil menjaga kedaulatan NKRI," ujarnya.
Baca Juga: Fokusmaker Dukung Soeharto Dapat Gelar Pahlawan Nasional: Tokoh Kunci Pembangunan Indonesia
Di mata Erryl Agoes, Soeharto sebagai Presiden RI juga sangat rendah hati.
Hal ini terbukti, selama memimpin Indonesia, Soeharto selalu hadir di tengah-tengah petani, nelayan dan masyarakat. Untuk memastikan program-program yang disusun pemerintah dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
"Pak Harto sangat rendah hati, beliau selalu turun di tengah-tengah masyarakat. Ini dapat dibuktikan beliau hadir di tengah-tengah petani, nelayan dan masyarakat. Ini untuk memastikan program yang sudah disusun pemerintah saat itu dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia," terangnya.
Erryl Agoes berharap seluruh elemen masyarakat agar tidak ada lagi kontrakdiktif atas usulan gelar pahlawan bagi Soeharto.
Dia juga mengajak masyarakat Indonesia menghormati proses yang sedang berjalan di Kemensos, agar keputusan pemberian gelar pahlawan bagi Soeharto tidak mendapat tekanan dari kepentingan-kepentingan asing yang menginginkan agar Soeharto tidak mendapatkan gelar Pahlawan.
Baca Juga: Golkar Dukung Pemerintah Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto
"Saya berharap masyarakat tidak lagi kontradiktif dan menghormati proses yang sedang berjalan di Kemensos RI. Supaya tidak ada kepentingan apapun yang menolak Pak Harto sebagai pahlawan nasional," tutup Erryl Agoes.
Untuk diketahui, Erryl Agoes merupakan salah satu sosok yang berani mengungkap kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat saat masih menjabat Direktur Pelanggaran HAM Berat Kejaksaan Agung.
Saat itu, salah satu yang dituntaskan mengenai kasus pelanggaran HAM berat adalah kasus di Paniai, Provinsi Papua, yang berhasil disidangkan sampai keluarnya ketetapan hukum di pengadilan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






