Harga Perumahan Naik, Tantangan Inflasi Jasa AS Belum Usai

AKURAT.CO Meski inflasi inti Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren melandai, tekanan harga dari sektor jasa khususnya perumahan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Federal Reserve (The Fed).
Mengutip dari laman Bloomberg, hasil data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat inflasi inti AS pada Desember naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan.
Angka ini menandai fase pendinginan yang lebih konsisten setelah laporan bulan sebelumnya dinilai kurang akurat akibat dampak penutupan pemerintahan.
Baca Juga: Inflasi AS Turun, Investor Whale Gencar Akumulasi PEPE, CAKE dan WLFI
Namun, rincian data menunjukkan biaya tempat tinggal kembali menguat dengan kenaikan 0,4%, tertinggi sejak Agustus.
Kategori ini menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dan masih menyumbang tekanan struktural pada sektor jasa, yang menjadi fokus utama The Fed dalam memantau stabilitas harga.
Sejumlah indikator perumahan utama, seperti sewa primer dan sewa ekuivalen pemilik rumah, kembali meningkat setelah sempat stagnan pada periode September hingga November. Tarif hotel juga melonjak, mencatat kenaikan terbesar sejak September 2023.
Sementara itu, indikator jasa di luar perumahan dan energi naik 0,3%. Meski indikator ini dihitung melalui indeks terpisah, bank sentral kerap menjadikannya barometer utama arah inflasi ke depan karena mencerminkan tekanan biaya yang lebih persisten.
Baca Juga: Bitcoin Tertekan 5 Persen ke USD109.700 Jelang Rilis Data Inflasi AS
Di sisi lain, tekanan inflasi dari barang relatif mereda. Harga peralatan rumah tangga serta kendaraan bekas turun, bahkan biaya perbaikan kendaraan mencatat penurunan terdalam sepanjang sejarah pencatatan.
Perkembangan upah turut menjadi perhatian. Data terbaru menunjukkan upah riil rata-rata per jam naik 1,1% secara tahunan pada Desember.
Meski kenaikan ini menopang daya beli, biaya hidup yang masih tinggi dinilai terus membebani sentimen konsumen dan berpotensi menjadi isu politik menjelang pemilu paruh waktu.
Ke depan, ekonom memperkirakan inflasi AS akan melandai secara bertahap sepanjang 2026, meski risiko tetap ada dari penyesuaian harga awal tahun serta ketidakpastian kebijakan tarif global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










