Akurat

Pasar AS Menguat, Risiko Inflasi Bayangi Kebijakan The Fed

Demi Ermansyah | 11 September 2025, 13:40 WIB
Pasar AS Menguat, Risiko Inflasi Bayangi Kebijakan The Fed

AKURAT.CO Pasar keuangan Amerika Serikat merespons positif laporan inflasi grosir terbaru. Indeks harga produsen (PPI) turun 0,1% pada Agustus 2025, penurunan pertama dalam empat bulan terakhir.

Sontak, harga saham berjangka dan obligasi pemerintah menguat karena pelaku pasar menilai peluang penurunan suku bunga acuan The Fed semakin besar.

Namun, penurunan ini menyimpan catatan penting. Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) dikutip dari laman reuters, menunjukkan penurunan terbesar terjadi di margin perdagangan grosir mesin dan kendaraan, yang anjlok 3,9%.

Data tersebut menyumbang tiga perempat pelemahan harga jasa bulan lalu. Sebaliknya, harga barang konsumsi jadi, khususnya produk tembakau, melonjak signifikan.

Baca Juga: PPI AS Turun, Peluang Pemangkasan Suku Bunga The Fed Terbuka

Para analis menilai kondisi ini mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi. Fluktuasi harga barang dan jasa, sebagian besar dipengaruhi kebijakan tarif impor pemerintahan Trump, membuat prediksi inflasi sulit dipastikan.

“Kita melihat pelemahan di satu sisi, tapi ada juga tekanan baru dari barang konsumsi. Risiko inflasi masih nyata,” ujar Ekonom New York Finance, David Burough.

Selain itu, lanjutnya, dampak kebijakan tarif terhadap konsumen rumah tangga belum sepenuhnya tercermin. Data harga konsumen yang akan dirilis sehari setelah laporan PPI diperkirakan lebih menentukan arah kebijakan The Fed.

Baca Juga: Dolar AS Stabil di Awal Perdagangan Pasar Asia, Pasar Nantikan Langkah The Fed

Meski investor menyambut gembira, risiko volatilitas pasar tetap tinggi. Jika The Fed memangkas suku bunga terlalu cepat, sementara tekanan inflasi masih ada, maka stabilitas jangka panjang bisa terganggu. Sebaliknya, bila The Fed menahan diri, pasar bisa kecewa dan memicu aksi jual.

Bagi pelaku usaha, kebijakan The Fed dalam beberapa bulan mendatang akan sangat menentukan biaya pembiayaan.

“Bunga pinjaman lebih rendah tentu membantu, tapi yang lebih penting adalah stabilitas harga agar konsumen mau belanja,” katanya kembali.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.