Akurat

Vietnam Melaju, Indonesia Masih Tertinggal: Mampukah RI Mengejar?

Demi Ermansyah | 7 Juli 2025, 12:10 WIB
Vietnam Melaju, Indonesia Masih Tertinggal: Mampukah RI Mengejar?

AKURAT.CO Di tengah gejolak ekonomi global, Vietnam tampil sebagai kejutan dari kawasan Asia Tenggara. Dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 7,96% secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2025, negara tersebut menunjukkan bahwa strategi industri dan diplomasi yang agresif mampu mengubah ancaman menjadi peluang.

Bagi Indonesia, yang selama ini memegang posisi sebagai kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN, capaian itu bukan hanya statistik semata. Hal tersebut adalah refleksi. Sebuah cermin yang menggambarkan apa yang bisa terjadi jika sebuah negara mampu berakselerasi tanpa terhambat oleh birokrasi dan stagnasi regulasi.

Maka pertanyaan besarnya pun muncul yakni apakah Indonesia mampu menyusul, atau justru tertinggal lebih jauh?

Baca Juga: Vietnam Manfaatkan Perang Tarif AS untuk Dongkrak Ekonomi Nasional

Jalan Panjang Vietnam

Seperti yang diketahui, pertumbuhan ekonomi Vietnam bukanlah hasil semalam jadi. Negara tersebut telah menjalani transformasi struktural sejak dua dekade terakhir. Reformasi ekonomi yang dimulai pasca perang, diperkuat dengan integrasi ke berbagai perjanjian perdagangan bebas seperti CPTPP dan EVFTA, membuat Vietnam menjadi magnet investasi asing.

Momentum terbesar datang ketika konflik dagang antara Amerika Serikat dan China mendorong perusahaan multinasional mengalihkan basis produksi mereka ke Vietnam. Namun bukan hanya itu.

Dikutip dari laman bloomberg disebutkan bahwa pemerintah Vietnam sigap mengelola diplomasi dagang. Ketika Presiden Donald Trump sempat mengancam tarif 46% untuk produk Vietnam, Hanoi dengan cepat bergerak. Melalui serangkaian negosiasi bilateral, tarif tersebut berhasil ditekan menjadi 20% saja.

Di sisi lain, Vietnam memperkuat fondasi dalam negeri. Sektor manufaktur, yang menjadi tulang punggung ekonomi mereka, tumbuh 10,1% di paruh pertama 2025. Ekspor melonjak 14,4%. Bahkan, negara tersebut mencatat surplus perdagangan sebesar USD7,63 miliar. Semuanya terjadi ketika negara lain justru mencatat defisit.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sementara Vietnam berlari, Indonesia masih berjalan dengan langkah hati-hati. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,87%  pada kuartal I 2025, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari separuh PDB, tetap menjadi andalan. Namun, sinyal perlambatan tampak dari sisi investasi. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), indikator utama investasi domestik, hanya tumbuh di kisaran 2-4%.

Baca Juga: China Peringatkan Negara Berkembang Jangan Jadi Korban Tarif AS

Ekspor Indonesia memang naik, namun belum signifikan. Ketergantungan terhadap komoditas mentah seperti batu bara dan sawit membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global. Sementara itu, diversifikasi ke industri manufaktur bernilai tambah masih berjalan lamban.

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah meluncurkan sejumlah stimulus fiskal. Pada pertengahan 2025, misalnya, pemerintah menggulirkan insentif Rp 24,4 triliun dalam bentuk subsidi transportasi, bantuan sosial, dan insentif sektor energi. Namun, daya dorongnya belum cukup untuk menciptakan lonjakan seperti yang dialami Vietnam.

Memang tidak bisa dipungkiri, Indonesia memiliki banyak keunggulan yang tak dimiliki Vietnam. Populasi lebih besar, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, serta posisi strategis dalam geopolitik Asia Pasifik. Namun keunggulan itu belum terkonversi secara optimal.

Salah satu tantangan terbesar adalah regulasi investasi yang masih ruwet. Meski pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang Cipta Kerja dan mendirikan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA), implementasinya masih tersendat.

Banyak investor mengeluhkan soal perizinan, tumpang tindih kebijakan daerah-pusat, serta persoalan infrastruktur pendukung industri.

Dalam aspek lain, kualitas sumber daya manusia Indonesia masih belum mampu menyamai negara tetangga.

Baca Juga: Wamendag Roro Dorong Kajian ERIA Terkait Dampak Tarif AS dan UMKM ASEAN

Mengutip dari hasil laporan World Bank 2025, indeks modal manusia Indonesia masih di garis stagnan, sedangkan Vietnam terus mengalami perbaikan, khususnya dalam pendidikan vokasi dan pelatihan industri.

Mampukah Indonesia Seperti Vietnam?

Melihat banyaknya penjelasan fakta dan data diatas, tentu saja jawabannya mampu, namun dengan syarat.

Indonesia butuh langkah lebih dari sekadar stimulus. Dibutuhkan keberanian untuk mempercepat reformasi struktural, memangkas birokrasi, memperkuat ekosistem industri, dan membuka ruang yang lebih besar bagi investasi asing langsung.

Dari sisi diplomasi, Indonesia juga perlu lebih agresif. Jika Vietnam bisa melobi Amerika Serikat untuk menurunkan tarif ekspor, maka Indonesia pun seharusnya mampu.

Apalagi, saat ini pemerintah tengah menandatangani nota kesepahaman perdagangan senilai USD34 miliar dengan AS sebagai bagian dari strategi menghadapi ancaman tarif serupa.

Namun diplomasi dagang saja tidak cukup. Indonesia harus menjadi tempat yang layak untuk investor. Itu artinya, infrastruktur harus mumpuni, regulasi harus pasti, dan pekerja harus terlatih.

Baca Juga: Jepang Andalkan Investasi Strategis Tekan Tarif AS Jelang Pertemuan G-7

Vietnam telah menunjukkan bahwa negara berkembang pun bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi jika strategi nasional dijalankan dengan disiplin dan konsistensi. Indonesia tidak kekurangan modal, yang dibutuhkan hanyalah ketegasan arah.

Jika tidak segera mempercepat transformasi, Indonesia bukan hanya akan tertinggal dari Vietnam, tetapi bisa kehilangan posisinya sebagai jangkar ekonomi ASEAN.

Namun jika momentum ini benar-benar diambil, dan langkah konkret dijalankan dengan keberanian, Indonesia punya peluang besar bukan hanya untuk menyusul Vietnam melainkan menjadi pemimpin regional yang sesungguhnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.