China Peringatkan Negara Berkembang Jangan Jadi Korban Tarif AS

AKURAT.CO China melayangkan peringatan keras kepada negara-negara berkembang agar tidak terjebak dalam tawaran dagang Amerika Serikat (AS) yang berpotensi merugikan hubungan jangka panjang dengan Beijing.
Pernyataan tersebut datang menyusul langkah AS yang akan menaikkan tarif terhadap sejumlah mitra dagangnya mulai awal Juli 2025.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kementerian Perdagangan China dikutip dari laman CGTN, juru bicara lembaga tersebut menegaskan bahwa China akan mengambil tindakan tegas terhadap negara mana pun yang menjalin kerja sama dagang dengan AS yang mengorbankan kepentingan China.
Baca Juga: Perang Dagang Mereda, AS-China Bahas Akses Tanah Jarang dan Ekspor Teknologi
"Jika situasi seperti itu terjadi, China tidak akan menerimanya dan akan mengambil tindakan balasan yang tegas," ujarnya.
China menyebut kebijakan tarif baru AS sebagai bentuk intimidasi sepihak yang berbahaya bagi stabilitas sistem perdagangan multilateral.
Juru bicara tersebut menambahkan bahwa hanya dengan ketegasan prinsip dan posisi, sebuah negara dapat menjaga hak dan kepentingan sahnya.
Pernyataan ini secara tidak langsung menyasar negara-negara berkembang yang saat ini tengah menjajaki peluang dagang baru dengan Washington.
Banyak negara, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, berada di persimpangan sulit antara mengakses pasar AS dan menjaga hubungan strategis dengan China.
China selama ini menjadi mitra utama bagi banyak negara berkembang dalam bidang perdagangan, infrastruktur, dan investasi strategis.
Baca Juga: Rupiah Nanjak 73 Poin ke Rp16.253 di Tengah Eskalasi Perang Dagang AS-China
Oleh karena itu, tekanan dari Beijing ini dinilai sebagai upaya mempertahankan pengaruh globalnya dan mencegah pergeseran aliansi dagang di tengah ketidakpastian geopolitik.
Analis hubungan internasional menilai, langkah ini menunjukkan bahwa persaingan dagang AS-China kini tak hanya bersifat bilateral, tetapi telah merembet menjadi pengaruh terhadap arah kebijakan ekonomi negara-negara mitra mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








