Vietnam Manfaatkan Perang Tarif AS untuk Dongkrak Ekonomi Nasional

AKURAT.CO Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Vietnam justru berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 sebesar 7,96% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Capaian tersebut bukan hanya melampaui ekspektasi survei Bloomberg yang berada di angka 6,8%, akan tetapi juga menandai akselerasi ekonomi tercepat negara itu dalam dua tahun terakhir.
Dikutip dari laman bloomberg, pendorong utama lonjakan ini berasal dari sektor perdagangan luar negeri, khususnya imbas dari ketegangan tarif antara Amerika Serikat dan sejumlah negara Asia.
Dalam upaya menghindari tarif impor sebesar 46% yang sempat direncanakan Presiden AS Donald Trump, banyak perusahaan global memindahkan rantai pasok produksinya ke Vietnam. Hal ini memberi dorongan signifikan terhadap sektor manufaktur dan ekspor Vietnam.
Baca Juga: China Peringatkan Negara Berkembang Jangan Jadi Korban Tarif AS
Kantor Statistik Nasional Vietnam mencatat lonjakan manufaktur sebesar 10,1% dan peningkatan ekspor sebesar 14,4% pada semester pertama 2025, menghasilkan surplus perdagangan sebesar USD7,63 miliar.
Menurut para analis, kondisi ini menunjukkan bagaimana Vietnam mampu bermanuver secara diplomatik dan strategis. Pemerintah Vietnam segera melakukan lobi ke AS agar tarif yang dikenakan tidak terlalu tinggi.
Hasilnya, AS menurunkan tarif tersebut menjadi sekitar 20%. Meski masih tinggi, hal itu cukup memberi ruang bagi Vietnam untuk tetap mempertahankan posisinya sebagai hub produksi internasional.
Baca Juga: Tarif AS Ganggu Daya Saing Ekspor Jepang, Industri Manufaktur Semakin Tertekan
“Vietnam menunjukkan kemampuannya memanfaatkan celah dari ketegangan dagang global. Ini bukan hanya soal bertahan, tapi melompat ke level kompetitif yang lebih tinggi,” ujar analis ekonomi dari Central Institute for Economic Management Vietnam, Nguyen Anh Duong.
Bahkan, lanjut Duong, Perdana Menteri Pham Minh Chinh pun menginstruksikan semua kementerian dan otoritas daerah untuk meningkatkan dukungan bagi industri ekspor dan memperkuat insentif investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).
"Meski demikian, ketergantungan berlebih pada pasar ekspor dan kondisi eksternal tetap menjadi risiko. Vietnam perlu segera memperkuat konsumsi domestik dan memperluas pasar regional untuk menjaga stabilitas pertumbuhan jangka panjang," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 6Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 7Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 8Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







