Akurat

Indonesia Kirim Delegasi ke AS, Respons Ancaman Tarif Resiprokal 32 Persen

Hefriday | 3 Juli 2025, 17:10 WIB
Indonesia Kirim Delegasi ke AS, Respons Ancaman Tarif Resiprokal 32 Persen

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan dalam merespons kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Indonesia telah mengambil langkah konkret dengan mengirimkan delegasi resmi ke Washington untuk mengikuti proses negosiasi bersama sejumlah negara lainnya.

“Indonesia sangat serius untuk merespons tarif resiprokal ini. Saat ini, tim Indonesia sudah berada di Washington bersama India, Jepang, Uni Eropa, Vietnam, dan Malaysia,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (3/7/2025).

Langkah ini merupakan bagian dari strategi diplomatik dan ekonomi Indonesia untuk memastikan hubungan dagang bilateral dengan AS tetap terjaga di tengah ancaman kenaikan tarif. Pemerintah secara resmi telah mengajukan tanggapan tertulis kepada Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), Departemen Perdagangan, dan Departemen Keuangan AS.

Baca Juga: China Peringatkan Negara Berkembang Jangan Jadi Korban Tarif AS

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa hingga saat ini belum tercapai kesepakatan dengan pihak AS terkait tarif resiprokal yang disebut-sebut sebesar 32%. Meski tenggat waktu negosiasi tinggal beberapa hari lagi, yakni 8 Juli mendatang, pemerintah tetap optimistis proses diplomasi akan berjalan lancar.

“Yang masih kita tunggu adalah dengan Amerika. Belum deal, dan itu masih berproses. Negara lain pun belum deal semua,” ujar Budi saat ditemui di Jakarta, Rabu (30/6/2025).

Budi mengakui bahwa dinamika negosiasi dengan AS tidak mudah. Namun, Indonesia terus berupaya menjaga hubungan perdagangan yang saling menguntungkan, terutama karena AS merupakan salah satu mitra dagang strategis Indonesia.

Baca Juga: Tarif AS Ganggu Daya Saing Ekspor Jepang, Industri Manufaktur Semakin Tertekan

Menurut data Kementerian Perdagangan, Amerika Serikat menjadi negara penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia. Sepanjang 2024, surplus neraca dagang Indonesia terhadap AS tercatat sebesar USD7,08 miliar. India berada di posisi kedua dengan USD5,30 miliar, disusul Filipina dengan USD3,69 miliar.

Surplus ini menunjukkan tingginya ketergantungan dan potensi hubungan dagang kedua negara. Karena itu, upaya menjaga kelancaran ekspor Indonesia ke AS menjadi prioritas utama pemerintah.

Sambil menunggu hasil negosiasi, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan juga melakukan identifikasi terhadap komoditas-komoditas unggulan yang memiliki potensi ekspor tinggi ke AS. Langkah ini menjadi bagian dari strategi antisipatif apabila diplomasi tidak mencapai hasil yang diharapkan.

“Kita tetap menyiapkan langkah-langkah lain, salah satunya dengan mengidentifikasi komoditas unggulan untuk ekspor ke pasar Amerika,” ungkap Budi.

Komoditas unggulan tersebut diharapkan dapat terus mendorong pertumbuhan ekspor dan menjaga kestabilan surplus neraca dagang Indonesia, terutama jika skenario tarif tinggi diterapkan.

Meski ketidakpastian masih membayangi, pemerintah tetap menaruh harapan besar terhadap kelanjutan hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat. Kedua negara dinilai memiliki kepentingan yang saling melengkapi, baik dalam hal ekspor-impor maupun investasi.

Menko Airlangga menyatakan, Indonesia tidak sendiri dalam menghadapi tantangan tarif resiprokal ini. Sejumlah negara besar seperti Jepang, India, dan Uni Eropa juga berada dalam situasi serupa dan melakukan negosiasi paralel di Washington.

Dengan semangat kolaboratif dan keterlibatan aktif dalam diplomasi perdagangan, Indonesia berharap keputusan akhir dari AS tetap mempertimbangkan prinsip perdagangan yang adil serta tidak merugikan mitra dagang strategisnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi