Akurat

Gencatan Dagang China-AS Tak Bertahan Lama, Ancaman Baru Bayangi Industri

Demi Ermansyah | 31 Mei 2025, 12:20 WIB
Gencatan Dagang China-AS Tak Bertahan Lama, Ancaman Baru Bayangi Industri

AKURAT.CO Setelah mencapai kesepakatan dagang sementara dengan Amerika Serikat pada pertengahan Mei, China sempat mencatatkan perbaikan moderat dalam aktivitas manufakturnya. Namun, munculnya kembali ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia itu mengancam kelangsungan pemulihan ekonomi China yang masih rentan.

Dikutip dari laman bloomberg, data PMI manufaktur resmi untuk Mei yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional menunjukkan perbaikan ke angka 49,5 dari 49 pada bulan sebelumnya. Meski merupakan kenaikan yang sesuai ekspektasi pasar, angka tersebut masih mencerminkan kontraksi dalam sektor manufaktur, menandakan bahwa sentimen bisnis belum sepenuhnya pulih.

Pada 14 Mei lalu, Beijing dan Washington sepakat untuk menurunkan tarif dalam sebuah gencatan dagang selama 90 hari. Kebijakan ini langsung berdampak pada peningkatan volume perdagangan dua arah, khususnya ekspor China yang sempat tertekan.

Baca Juga: KTT ASEAN 2025 Dorong Kemitraan Dagang dengan China dan Negara Teluk

Namun, hanya berselang dua pekan sejak kesepakatan dicapai, muncul sinyal baru dari Washington terkait penyelidikan terhadap praktik perdagangan tidak adil oleh perusahaan teknologi asal China.

Langkah ini dikhawatirkan dapat memicu respons serupa dari Beijing, memunculkan kembali bayang-bayang perang dagang jilid dua.

Ekonom menilai ketegangan dagang yang tak kunjung usai berpotensi menghambat prospek ekspor China, meskipun sempat direvisi naik oleh para analis pasca-kesepakatan Jenewa. Dalam survei Bloomberg, pertumbuhan ekspor China diperkirakan akan naik 1,1% pada 2025, berbalik arah dari prediksi kontraksi 1% pada bulan sebelumnya.

“Pasar menunjukkan respons positif terhadap pelonggaran tarif, namun risiko geopolitik tetap tinggi. Kepercayaan pasar bisa kembali runtuh jika ketegangan meningkat,” ujar analis ekonomi senior dari Nomura Securities, Chen Wei.

Sementara itu, tekanan dari sisi domestik juga belum mereda. Harga-harga di sektor konsumsi menunjukkan tren penurunan selama dua tahun terakhir, memperkuat risiko deflasi yang melemahkan belanja rumah tangga dan investasi perusahaan.

Baca Juga: ASEAN Terjepit Dua Raksasa Ekonomi, Antara China Menekan atau AS Menjauh

Di sektor jasa, PMI non-manufaktur turun menjadi 50,3 dari 50,4, menandakan bahwa ekspansi di sektor ini juga kian melemah. Total indeks komposit yang menggabungkan aktivitas manufaktur dan jasa hanya mencatatkan 50,4, angka yang nyaris stagnan.

Para pembuat kebijakan China kini dihadapkan pada dilema, di satu sisi mereka harus menjaga stabilitas dengan AS untuk mempertahankan momentum ekspor, di sisi lain mereka perlu memperkuat konsumsi domestik yang menjadi tumpuan pertumbuhan jangka panjang.

Dalam kondisi seperti ini, stimulus fiskal maupun moneter yang lebih terarah kemungkinan besar akan digelontorkan dalam beberapa bulan mendatang untuk menopang pertumbuhan. Namun, tanpa kepastian hubungan perdagangan yang stabil, upaya tersebut berisiko tidak efektif.

Pemerintah China masih menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% tahun ini, namun survei terakhir Bloomberg menempatkan prediksi pada 4,5%. Artinya, jurang antara harapan dan kenyataan masih menganga.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.