ASEAN Terjepit Dua Raksasa Ekonomi, Antara China Menekan atau AS Menjauh

AKURAT.CO Pertemuan tingkat tinggi ASEAN yang dimulai pada Senin (26/5/2025) di Kuala Lumpur menggarisbawahi tantangan strategis terbesar bagi negara-negara Asia Tenggara dalam satu dekade terakhir, yakni mempertahankan independensi kebijakan luar negeri dan ekonomi di tengah tekanan dari dua kekuatan global, Amerika Serikat dan China.
Dihadiri oleh Perdana Menteri China, Li Qiang dan enam pemimpin negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), KTT kali ini menandai pergeseran keseimbangan kekuatan di kawasan. Tidak satu pun pejabat tinggi AS hadir, mempertegas absennya komitmen langsung Washington terhadap kerja sama regional ASEAN.
Sementara itu, dikutip dari laman bloomberg, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim memanfaatkan momentum ini untuk mempromosikan negaranya sebagai mitra netral yang terbuka bagi semua pihak.
Baca Juga: Prabowo Bertemu PM Laos di Sela KTT ASEAN, Dorong Peningkatan Volume Perdagangan
“Malaysia tidak memilih pihak. Kami siap berdagang dengan siapa pun yang mau berdagang dengan kami,” kata Anwar.
Namun, posisi nonblok ini semakin sulit dipertahankan. China secara terbuka memperingatkan agar negara-negara ASEAN tidak mendukung kebijakan AS yang dianggap merugikan Beijing.
Sedangkan di sisi lain, tarif baru yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump berpotensi menggerus akses ekspor negara-negara ASEAN ke pasar Amerika.
Menurut analis dari Institute of Strategic and International Studies Malaysia, Shahriman Lockman, kawasan ini berada dalam dilema geopolitik yang kompleks.
“Diversifikasi bukan sekadar pilihan rasional, tetapi menjadi keharusan. Namun, harus diakui, belum ada alternatif nyata yang mampu menggantikan peran AS,” ujarnya.
Baca Juga: Babak Belur Digempur Produk China, AS Bikin Aturan Baru
Di tengah tekanan ini, ASEAN dan China baru saja menyepakati revisi perjanjian perdagangan bebas, termasuk ekonomi digital dan hijau.
"Tentunya langkah tersebut dinilai penting, meski belum mampu mengimbangi kerugian yang mungkin ditimbulkan dari hubungan dagang yang memburuk dengan AS," paparnya.
Sementara itu, negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam mulai menjajaki skema kerja sama baru dalam BRICS. Namun pengamat menilai, blok tersebut masih memerlukan waktu untuk membuktikan relevansi ekonominya secara global.
“ASEAN sedang berjalan di tali yang rapuh, sebab setiap langkah diplomatik harus diukur dengan cermat agar tidak memicu ketegangan baru, baik dengan China maupun AS,” ucapnya kembali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










