Akurat

Ekonom Ramal Adanya Gejala Resesi Teknikal di Kuartal II 2025

Camelia Rosa | 5 Mei 2025, 20:10 WIB
Ekonom Ramal Adanya Gejala Resesi Teknikal di Kuartal II 2025

AKURAT.CO Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai akan adanya gejala resesi teknikal pada kuartal II 2025. Hal itu merespon angka realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2025 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik.

"Secara kuartal to kuartal angka nya cukup mengkhawatirkan, dimana pertumbuhan triwulan I 2025 minus 0,98% terendah dibandingkan periode yang sama sejak 5 tahun terakhir. Sektor industri pengolahan yang tertekan menjadi sinyal berlanjutnya tekanan ekonomi. Skenario resesi teknikal harus dihindari.” tutur Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/5/2025).

Dijelaskan Bhima, konsekuensi dari sinyal resesi teknikal, industri pengolahan akan cenderung mengurangi pembelian bahan baku, melakukan efisiensi berbagai biaya produksi termasuk tenaga kerja.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi RI Tumbuh 4,87%, Airlangga: Masih Lebih Baik dari Anggota G20 Lainnya

Pertumbuhan sektor industri pengolahan non-migas di triwulan I 2025 hanya 4,3%. Angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal I tahun sebelumnya yang masih tumbuh sebesar 4,64%.

Bhima menekankan, Indikator Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia yang berada di bawah level ekspansi atau 46,7 pada April 2025 perlu menjadi perhatian pemerintah. Menurutnya, tekanan akibat adanya perang dagang hanya salah satu faktor pemicu industri berada dibawah kapasitas optimalnya.

Tapi di dalam negeri, efek industri melemah ibarat lingkaran setan (vicious cycle), menciptakan pelemahan daya beli lebih dalam berujung pada menurunnya permintaan produk industri.

"Maka pemerintah wajib meningkatkan daya beli masyarakat melalui program-program yang sifatnya fiskal ekspansif seperti pembagian bantuan sosial terutama bagi kelompok menengah dan rentan," tegasnya.

Bhima berpendapat, walaupun menggunakan data BPS atau Bank Dunia, pada prinsipnya pemerintah belum serius memberikan perlindungan bagi kelas menengah, rentan, maupun miskin. Apalagi pekerja informal kedepan semakin besar porsinya karena gelombang PHK di sektor formal, dan mereka butuh jaring pengaman sosial yang lebih memadai.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Sektor Pertanian dan Jasa Jadi Penopang Utama Kuartal I 2025

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa dari sisi investasi yang menjadi catatan adalah pertumbuhan PMTB atau investasi langsung relatif rendah 2,12% YoY di kuartal I 2025. Cara pemerintah mendorong investasi perlu di evaluasi total karena lebih pro terhadap investasi sektor berbasis komoditas yang padat modal.

Pemerintah harus meningkatkan iklim investasi dan mulai menggaet investasi yang ramah lingkungan dan sifatnya padat karya.

Oleh sebb itu, potensi dari green economy belum tergarap dengan optimal. Padahal potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerjanya cukup besar.

"Kita kekurangan ‘engine of resilience growth’ atau pertumbuhan yang tahan terhadap gejolak eksternal. Motor pertumbuhan yang bisa jadi penyelamat salah satunya adalah ekonomi hijau seperti transisi energi berbasis komunitas, hingga industri komponen smart grid didalam negeri," paparnya.

"Nampaknya berpangku pada komoditas ekstraktif yang siklusnya pendek tidak akan membawa Indonesia selamat dari resesi. Perlu ada alternatif model perekonomian yang berkelanjutan," tutup Bhima.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.