IHSG Tahan Guncangan Global, Ekonomi RI Masih Kuat Meski Dihantam Tarif Trump

AKURAT.CO Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan ketangguhannya di tengah badai global. Meski Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membuat geger dunia melalui kebijakan tarif impornya yang baru, pasar modal Tanah Air tampaknya tetap bisa berdiri tegak.
Meski sempat melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak jatuh terlalu dalam seperti yang terjadi di banyak negara lain.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut bahwa kinerja IHSG Indonesia justru bisa dibilang cukup oke.
"Dibandingkan negara-negara seperti Vietnam, Italia, Prancis, bahkan AS sendiri, penurunan IHSG hanya sekitar 7,9 persen sejak 2 April hingga 8 April 2025. Padahal, di negara-negara tersebut, pasar sahamnya anjlok lebih dari 10 persen," ujar Josua dalam keterangan di Jakarta, Rabu (9/4/2025).
Baca Juga: IHSG Anjlok 7,9 Persen ke Bawah 6.000, Menkeu: Imbas AS-China Saling Serang
Josua menyebut, ini adalah sinyal positif dari kepercayaan investor terhadap pondasi ekonomi Indonesia yang kuat. Meski dunia sedang bergejolak, pelaku pasar tetap yakin bahwa ekonomi RI punya daya tahan yang bisa diandalkan.
“Kalau dibanding negara-negara lain, Indonesia masih cukup tangguh,” katanya.
Beberapa faktor yang menopang optimisme pasar adalah pertumbuhan kredit perbankan yang masih dua digit, tepatnya 10,42%.
Selain itu, konsumsi domestik saat Ramadan juga ikut mengangkat perekonomian. Belum lagi surplus neraca dagang yang tetap terjaga.
Satu hal penting lainnya, menurut Josua, adalah minimnya ketergantungan Indonesia terhadap pasar Amerika Serikat.
"Ekspor RI ke Negeri Paman Sam cuma sekitar 2,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Bandingkan dengan Vietnam yang mencapai 33 persen. Jadi, saat AS memperketat pintu masuk barang dari luar, dampaknya ke Indonesia masih relatif kecil," tegasnya.
Baca Juga: IHSG Tertekan, BEI: Analisis Secara Objektif, Jangan Hanya Disetir Sentimen Negatif!
Kebijakan Trump yang disebut-sebut sebagai “Tarif Liberation Day” ini memang bikin panas. Tarif naik sampai 10% ke banyak negara, termasuk Indonesia yang kena tarif hingga 32%.
Akan tetapi sejauh ini, respons pasar di Tanah Air masih cukup tenang. Tidak panik, tapi tetap waspada.
Menurut Josua, tekanan eksternal seperti perlambatan ekonomi global, gangguan rantai pasok, hingga pelemahan nilai tukar rupiah tentu memberi dampak.
"Tapi sejauh ini, Indonesia masih bisa mengendalikan situasi. Apalagi dengan kekuatan sektor domestik yang tetap bergairah," ungkapnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga turut menegaskan hal serupa.
"Fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap solid. Pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, dan rasio kecukupan modal perbankan mencapai 27 persen," ujarnya dalam Konferensi Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI, Selasa (8/4/2025).
Airlangga bahkan menambahkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan naik lebih dari 5%, dan loan to deposit ratio (LDR) ada di angka sehat, yakni 88,92%.
Tentunya melalui likuiditas yang aman dan sektor perbankan yang kuat, Indonesia dinilai siap menghadapi tekanan global yang mungkin masih akan berlanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










