Akurat

Implikasi Strategis Penghentian Intelijen AS terhadap Ukraina dan Sekutu Eropa

Demi Ermansyah | 9 Maret 2025, 09:00 WIB
Implikasi Strategis Penghentian Intelijen AS terhadap Ukraina dan Sekutu Eropa

AKURAT.CO Keputusan pemerintahan, Donald Trump untuk menghentikan berbagi intelijen dengan Ukraina telah menimbulkan kekhawatiran besar di Eropa. Langkah tersebut dianggap sebagai tekanan politik yang bisa mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut.

Pejabat Eropa yang mengetahui perkembangan ini menyebut bahwa Kyiv sangat bergantung pada informasi intelijen dari sekutu Barat untuk mendeteksi serangan udara Rusia serta mengoperasikan senjata yang dipasok oleh negara-negara NATO.

“Penghentian intelijen ini bukan hanya mempengaruhi Ukraina, tetapi juga bisa melemahkan efektivitas sistem pertahanan Eropa secara keseluruhan,” ujar seorang pejabat pertahanan Inggris yang enggan disebutkan namanya dikutip dari laman Reuters.

Efek Domino bagi Sekutu

Para pemimpin Eropa kini mempertanyakan apakah keputusan ini hanya sementara atau bagian dari strategi jangka panjang Trump untuk menekan Kyiv agar menerima syarat yang diajukannya.

Inggris dan Prancis dilaporkan sedang mencari cara untuk menggantikan kekosongan intelijen yang ditinggalkan AS, tetapi sejauh ini belum ada solusi konkret.

Mantan Direktur CIA, John Brennan mengecam keputusan Trump ini sebagai bentuk pemerasan politik yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Sepanjang pengalaman saya, tidak pernah ada situasi di mana AS menghentikan aliran intelijen kepada sekutu karena alasan politik,” ujarnya dalam wawancara dengan Times Radio.

Baca Juga: Menelaah Tekanan Trump Terhadap Ukraina, Antara Kesepakatan Dagang atau Diplomasi Perang

Selain itu, penghentian intelijen juga berimbas pada efektivitas rudal jarak jauh Storm Shadow yang digunakan Ukraina, yang bergantung pada data navigasi dan dukungan operasional dari AS.

Sejumlah pejabat Eropa kini mendesak AS untuk mempertimbangkan kembali langkah ini. Pemerintah Inggris bahkan disebut-sebut tengah mengupayakan agar bantuan intelijen kembali diberikan kepada Ukraina.

Namun, Trump dan penasihat keamanan nasionalnya, Mike Waltz, tetap bersikukuh bahwa penghentian bantuan ini adalah strategi untuk mendorong Kyiv agar lebih serius dalam negosiasi damai.

“Jika pihak-pihak terkait dapat melangkah ke arah negosiasi dan menunjukkan komitmen, maka presiden akan mempertimbangkan kembali keputusan ini,” kata Waltz dalam wawancara di Fox News.

 

Tekanan Tanpa Jaminan Keamanan, Apakah Nyata?

Di tengah tekanan AS, para pejabat Eropa khawatir bahwa dorongan Trump untuk mencapai gencatan senjata tanpa jaminan keamanan dapat memaksa Ukraina menerima kesepakatan yang merugikan.

Jika ini terjadi, stabilitas kawasan bisa terganggu dan membuka celah bagi Rusia untuk memperluas pengaruhnya di Eropa Timur.

Selain itu, belum ada tanda-tanda bahwa Rusia siap untuk berkompromi dalam negosiasi ini.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, secara tegas menolak kehadiran pasukan penjaga perdamaian Barat di Ukraina, yang sempat disebut sebagai bagian dari solusi damai oleh Trump.

Baca Juga: Pasca Kena Tolak AS, Ukraina Dapat Bantuan IMF Sebesar USD15,5 Miliar

Apabila dalam negosiasi nanti terbukti bahwa Putin menolak berkompromi, maka akan menjadi jelas bahwa Rusia lah yang tidak bersedia berdamai. Namun, yang semakin dikhawatirkan justru malah Trump yang pada akhirnya meninggalkan Ukraina begitu saja

Sejumlah negara Eropa kini tengah mempertimbangkan langkah-langkah alternatif untuk memastikan keamanan Ukraina tetap terjaga, termasuk kemungkinan memberikan jaminan keamanan bilateral di luar peran AS.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.