Akurat

Rupiah Ambruk 45 Poin ke Rp16.676

M. Rahman | 3 November 2025, 16:12 WIB
Rupiah Ambruk 45 Poin ke Rp16.676

AKURAT.CO Rupiah melemah 45 poin (0,27%) ke level Rp16.676 pada perdagangan Senin (3/11/2025) usai ditekan sejumlah sentimen.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan dari sisi eksternal, meskipun Federal Reserve telah memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pekan lalu, namun komentar Ketua Fed Jerome Powell bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut "bukanlah sesuatu yang pasti" meredam optimisme investor.

"Nada kehati-hatiannya, yang juga disuarakan oleh pejabat Fed lainnya, telah mendorong pasar untuk mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga lagi pada bulan Desember, yang membuat indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi tiga bulan pada hari Senin," ujar Ibrahim, Senin (3/11/2025).

Baca Juga: The Fed Digadang Pangkas Suku Bunga, Rupiah Menguat 13 Poin ke Rp16.608

Sementara, penutupan pemerintah AS kini telah memasuki minggu kelima, tanpa ada terobosan setelah Senat ditunda pada hari Kamis. Para senator dijadwalkan untuk kembali bersidang pada hari Senin, tetapi perundingan tetap mandek meskipun Presiden Donald Trump mendesak Partai Republik untuk mengakhiri filibuster guna mendorong RUU pendanaan.

"Penutupan pemerintah ini telah menunda rilis data ekonomi utama AS dan meningkatkan kekhawatiran atas dampaknya terhadap perekonomian secara lebih luas, yang membuat dolar terus menguat dan rupiah siap melemah ke Rp16.800-Rp16.900," imbuhnya.

Dari sisi geopolitik global, kekhawatiran atas gangguan pasokan muncul setelah Ukraina pada hari Minggu menyerang salah satu pelabuhan minyak utama Rusia di Laut Hitam.

Serangan itu merupakan bagian dari strategi Kyiv untuk menghambat upaya perang Rusia dengan menyerang infrastruktur energinya. Serangan itu terjadi tepat setelah Rusia menyerang wilayah Zaporizhzhia di Ukraina, yang mengganggu pasokan listrik untuk sebagian besar wilayah negara itu. 

Selain itu, pertemuan yang diawasi ketat antara Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping di Busan pekan lalu berakhir dengan kedua pemimpin berjanji untuk mengurangi hambatan perdagangan.

Diskusi tersebut dilaporkan mencakup kerangka kerja untuk pengurangan tarif AS dan komitmen China untuk meningkatkan impor barang-barang Amerika.

Dari sisi internal, ekspansi manufaktur Indonesia berlanjut dalam 3 bulan terakhir. Pada Oktober 2025, Purchasing Managers Index atau PMI manufaktur Indonesia mencapai level 51,2 atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya 50,4. 

Laporan terbaru S&P Global melaporkan angka PMI menunjukkan kondisi manufaktur yang stabilnya dari segi produksi, peningkatan aktivitas pembelian, serta penyerapan tenaga kerja.

Lonjakan permintaan juga terjadi dan bersumber dari permintaan domestik, sedangkan permintaan ekspor justru menurun dua bulan beruntun akibat lemahnya pasar global.

Dari sisi harga, produsen manufaktur di Indonesia melaporkan percepatan lebih lanjut pada laju inflasi harga input. Alhasil, biaya rata-rata meningkat pada laju tercepat dalam delapan bulan terakhir, seiring dengan kenaikan harga bahan baku.

Meskipun demikan, volume produksi sedikit tertinggal dan berada di level netral, karena sebagian produsen melaporkan telah menghabiskan persediaan barang jadi yang ada sebelumnya.

Namun, tak dipungkiri bahwa tekanan harga masih tetap tinggi, dengan produsen mencatat kenaikan beban biaya rata-rata paling tajam dalam delapan bulan terakhir, seiring laporan kenaikan harga bahan baku.

Selain itu, perusahaan juga cenderung berhati-hati untuk membebankan kenaikan biaya kepada pelanggan, sehingga harga jual hanya meningkat tipis sebagai upaya mempertahankan daya saing harga.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa