Akurat

Trumpnomics dan Bayang-bayang Inflasi AS yang Kian Menghantui

Demi Ermansyah | 27 Februari 2025, 09:00 WIB
Trumpnomics dan Bayang-bayang Inflasi AS yang Kian Menghantui

AKURAT.CO Pasca Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), dirinya langsung tancap gas dengan berbagai kebijakan ekonomi yang ambisius. Namun, langkah-langkahnya berpotensi memberikan dampak besar terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja.

Beberapa kebijakan utama yang sudah diumumkan antara lain pengetatan aturan imigrasi, pemangkasan jumlah pegawai federal, serta pemberlakuan tarif tambahan terhadap China dan ancaman kebijakan serupa terhadap mitra dagang lainnya.

Tentunya, kebijakan tersebut menimbulkan berbagai pro dan kontra. Di satu sisi, langkah Trump dianggap bisa memperkuat ekonomi domestik. Namun, di sisi lain, para analis memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa berdampak negatif pada inflasi dan lapangan kerja.

Mengutip dari laman reuters, tarif tambahan terhadap China dan negara lain berpotensi menaikkan harga barang impor. Jika ini terjadi, biaya produksi bagi perusahaan di AS bisa meningkat, yang pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri.

Baca Juga: Donald Trump Minta USD500 Miliar dari Ukraina, Realistis atau Sekedar Manuver Politik?

Menurut Gubernur The Fed, Tom Barkin menyampaikan bahwasanya melihat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, menunjukkan bahwa tarif impor acap kali berkontribusi pada inflasi yang lebih tinggi. Namun, ia juga menekankan bahwa situasi saat ini belum tentu sama seperti sebelumnya.

“Kebijakan saat ini tidak akan persis sama dengan yang sebelumnya, dan kita belum tahu apakah pengalaman terbaru dengan inflasi akan memperburuk atau justru meredam dampaknya kali ini,” ujar Barkin.

Kemudian, jika melihat dari sisi lainnya, kebijakan kontroversial berikutnya yakni pengetatan imigrasi sekaligus pengurangan pegawai federal yang berpotensi mengurangi jumlah tenaga kerja diberbagai sektor.

Oleh karena itu, apabila tenaga kerja berkurang, tentunya hal tersebut bisa menyebabkan kenaikan upah, kok bisa begitu? sebab mau tidak mau perusahaan harus bersaing mendapatkan pekerja. Kenaikan upah yang signifikan juga bisa mendorong inflasi lebih tinggi.

Baca Juga: Trump Perketat Investasi Strategis China, Langkah Tepat bagi AS?

Namun, hingga saat ini, pasar tenaga kerja masih cukup stabil. Meskipun The Fed memangkas suku bunga pada 2024 karena kekhawatiran pasar tenaga kerja melemah, data terbaru menunjukkan bahwa kondisi ketenagakerjaan masih cukup kuat.

Bahkan para pejabat The Fed, termasuk gubernur bank sentral, Jerome Powell, menilai bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan bagaimana kebijakan ekonomi Trump akan berdampak pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Beberapa analis memperkirakan bahwa jika inflasi terus meningkat akibat kebijakan Trump, The Fed bisa kembali mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter.

Namun, apabila dampaknya tidak sebesar yang diperkirakan, ada kemungkinan The Fed tetap pada jalurnya untuk menurunkan suku bunga secara bertahap. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, semua pihak dari pemerintah, bank sentral, hingga pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.