Akurat

Ini Yang Perlu Diatasi Tim Ekonomi KMP di 100 Hari Pertama

Hefriday | 22 Oktober 2024, 22:53 WIB
Ini Yang Perlu Diatasi Tim Ekonomi KMP di 100 Hari Pertama

AKURAT.CO Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, mengungkapkan sejumlah tantangan besar perekonomainyang akan dihadapi Kabinet Merah Putih (KMP), terutama dengan banyaknya menteri dari kabinet sebelumnya yang kembali masuk dalam jajaran Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto. 

Nama-nama seperti Sri Mulyani dan Airlangga Hartarto menjadi sorotan, di mana Esther menilai bahwa meskipun memiliki pengalaman, masih banyak pekerjaan rumah di bidang ekonomi yang harus diselesaikan.

Salah satu isu utama yang diangkat oleh Esther adalah ruang fiskal yang semakin menyempit. Menurutnya, rasio utang terhadap PDB yang terus meningkat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dengan serius.
 
 
"Ruang fiskal kecil ditandai dengan rasio utang yang tinggi dan cenderung meningkat terus, sementara penerimaan negara terutama dari pajak cenderung turun dan rendah," ujarnya saat dihubungi Akurat.co, Selasa (22/10/2024).

Tantangan ini mengindikasikan bahwa pemerintah perlu memikirkan kebijakan fiskal yang lebih efektif dalam mengelola utang dan meningkatkan penerimaan pajak, tanpa terlalu membebani masyarakat.

Esther juga menyoroti ketidakseimbangan antara nilai ekspor dan impor. Menurutnya, dengan nilai impor meningkat dan nilai ekspor cenderung stagnan atau hanya meningkat pada saat ada commodity booming price, sangat menantang.
 
"Ketergantungan pada harga komoditas global membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi pasar internasional, yang bisa berimbas pada stabilitas ekonomi nasional," ujarnya.

Oleh karena itu, dibutuhkan strategi diversifikasi ekspor dan penguatan industri dalam negeri agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada komoditas mentah dan bisa meningkatkan nilai tambah produk.

Penurunan tingkat kemiskinan yang relatif kecil juga menjadi perhatian. Esther menegaskan bahwa solusi kemiskinan bukanlah bantuan sosial (bansos), melainkan kebijakan yang lebih struktural. Pemerintah harus lebih fokus pada penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan masyarakat untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. "Penurunan tingkat kemiskinan relatif kecil, solusinya bukan bansos," katanya. 

Esther juga menekankan pentingnya investasi yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan, bukan hanya mengalir ke sektor yang tidak berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja. "Investasi seharusnya mendorong penciptaan lapangan pekerjaan," tuturnya.

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dianggap krusial dalam menghadapi persaingan global. Pendidikan dan pelatihan vokasi perlu lebih ditingkatkan untuk menyiapkan tenaga kerja yang siap menghadapi tantangan industri 4.0 dan 5.0.

Kedaulatan pangan juga menjadi isu penting yang diangkat oleh Esther. "Kedaulatan pangan perlu diciptakan," tegasnya. Dengan ketergantungan impor yang tinggi di sektor pangan, pemerintah perlu mendorong kemandirian pangan untuk memastikan ketahanan dan stabilitas nasional.

Salah satu perhatian besar Esther terhadap kabinet Prabowo adalah susunan kabinet yang gemuk. "Kabinet gemuk menurut saya akan mendorong kenaikan belanja rutin sehingga mengurangi belanja modal untuk pembangunan," ujarnya. 
 
Menurutnya, anggaran negara akan lebih banyak tersedot untuk belanja pegawai dan kegiatan rutin, sehingga ruang untuk investasi dalam pembangunan infrastruktur dan proyek-proyek strategis bisa berkurang.

Esther berharap agar dalam 100 hari pertama pemerintah, ada fokus pada alokasi anggaran yang lebih produktif dan bermanfaat bagi kepentingan publik. "Ekspektasi 100 hari kedepan, alokasikan anggaran untuk hal yang produktif dan untuk kepentingan publik," harapnya.

Selain itu, Esther juga mengusulkan agar proyek strategis nasional (PSN) yang dikhususkan untuk sektor swasta dibatalkan. "Batalkan PSN untuk proyek swasta," tegasnya. Menurutnya, proyek-proyek ini seringkali hanya menguntungkan segelintir pihak dan tidak berdampak signifikan pada kesejahteraan masyarakat luas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa