Awali Pekan, Rupiah Naik 20 Poin ke Rp16.281

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 20 poin ke Rp16.281 pada perdagangan senin, 29 Juli 2024. Pengamat Komoditas dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditopang sentimen eksternal dan internal.
Dari eksternal, meningkatnya spekulasi atas pemotongan suku bunga, menyusul beberapa tanda menggembirakan dari data indeks harga PCE minggu lalu, yang merupakan pengukur inflasi pilihan Fed. Hasil pembacaan tersebut menempatkan pertemuan Fed minggu ini dalam fokus utama.
"Sementara bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, sinyal apa pun mengenai rencananya untuk memangkas suku bunga akan diawasi dengan ketat. Menurut CME Fedwatch, para pedagang hampir sepenuhnya memperkirakan pemangkasan 25 basis poin pada bulan September," ujarnya dikutip Senin (29/7/2024).
Baca Juga: 3 Hari Beruntun, Rupiah Turun Lagi 51 Poin ke Rp16.301
Selama beberapa minggu terakhir, harapan akan gencatan senjata di Gaza telah mendapatkan momentum. Tetapi Israel menginginkan perubahan dalam rencana gencatan senjata Gaza dan pembebasan sandera oleh Hamas, yang mempersulit kesepakatan untuk menghentikan pertempuran selama sembilan bulan yang telah menghancurkan daerah kantong itu, menurut seorang pejabat Barat, seorang Palestina, dan dua sumber Mesir.
Selain itu, kekhawatiran akan melambatnya pemulihan ekonomi China, menyusul serangkaian pembacaan yang lemah sepanjang Juli, memicu aksi jual yang berkepanjangan di pasar China. Ketidakpastian politik AS juga membebani pasar China, terutama dengan investor yang tidak yakin tentang bagaimana pemerintahan AS berikutnya akan memperlakukan Beijing.
"Fokus minggu ini adalah pada data indeks manajer pembelian utama dari negara tersebut untuk mendapatkan lebih banyak petunjuk mengenai aktivitas bisnis," imbuhnya.
Sentimen Internal
Dari internal, pertumbuhan ekonomi Indonesia di akhir tahun 2024 diperkirakan hanya akan bergerak stabil di level 5,1%. Adapun pada kuartal I-2024 ekonomi RI tumbuh 5,11%. Ekspansi fiskal yang kuat, pembelanjaan terkait pemilu, dan investasi kemungkinan besar akan menjaga pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) di atas 5% tahun ini.
Momentum yang mendorong perekonomian RI akan sedikit berkurang di semester II-2024. Hal ini dikarenakan adanya rebound pada daya beli konsumen dan memudarnya dampak belanja pemilu. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,9% yoy pada kuartal pertama, atau masih di bawah rata-rata periode sebelum Covid-19, yakni sebesar 5%.
"Kami berpendapat bahwa lambatnya penciptaan lapangan kerja di sektor formal dapat mengurangi peningkatan konsumsi pada semester kedua," ujarnya.
Perluasan industri yang memberikan nilai tambah dan lapangan kerja di sektor formal, serta penurunan inflasi pangan mungkin diperlukan untuk meningkatkan daya beli konsumen, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah hingga menengah.
Selain itu, sektor pengolahan mineral dengan intensitas permodalan yang tinggi saat ini masih merupakan target utama penanaman modal asing. Permintaan eksternal dapat dipertahankan di tengah membaiknya ekspor logam dan kuatnya permintaan komoditas utama Indonesia, termasuk batu bara, minyak sawit, serta minyak dan gas.
World Bank akan mempertahankan perkiraan inflasi rata-rata tahun 2024 sebesar 2,9% yoy, meskipun rupiah melemah, inflasi rata-rata adalah 2,8% yoy di semester I-2024. Meredanya inflasi pangan karena membaiknya kondisi cuaca dan stabilnya harga energi bersubsidi akan mengimbangi kenaikan inflasi inti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










