Ekonom Sebut Korban Judol Banyak dari Kalangan Tak Punya Peluang Kerja

AKURAT.CO Menurut data terbaru yang dirilis oleh Pusat pelaporan dan analisis transaksi Keuangan (PPATK), perputaran uang dari judi online di Indonesia pada tahun 2023 mengalami lonjakan drastis, mencapai angka Rp327 triliun.
Angka ini mencatatkan peningkatan lebih dari empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp81 triliun. Lonjakan ini mencerminkan dampak besar terhadap perekonomian masyarakat, terutama dalam konteks produktivitas dan stabilitas ekonomi.
Menanggapi fenomena tersebut, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto menilai lonjakan dalam perputaran uang judi online mencerminkan masalah besar dalam hal produktivitas masyarakat.
"Angka transaksi judi online yang tinggi ini mencerminkan ketidakproduktifan sebagian besar masyarakat. Banyak individu yang terdampak perjudian online ini berasal dari kalangan yang tidak memiliki peluang kerja yang memadai atau yang menghadapi kesulitan ekonomi. Ini menunjukkan bahwa ada ketidakseimbangan serius dalam perekonomian kita," ungkap Eko dalam diskusi bersama di Youtube Indef, dikutip Jumat (26/7/2024).
Baca Juga: Youtube Terpapar Iklan Judol, Menkominfo: Ini Phishing
Eko menilai bahwa menutup situs judi online dan memberikan edukasi belum cukup untuk mengatasi masalah ini. Ia menekankan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif, seperti penciptaan lapangan kerja dan kebijakan ekonomi untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.
"Menutup situs judi online atau memberikan edukasi memang penting, tetapi langkah-langkah ini tidak cukup untuk menyelesaikan masalah. Pemerintah perlu mengambil pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dan kebijakan ekonomi yang mampu meningkatkan produktivitas masyarakat secara keseluruhan," jelasnya.
Dalam tanggapannya terhadap upaya pemerintah, seperti pemberian Bansos untuk korban judi online dan pemblokiran situs, Eko mengkritik efektivitas dari langkah-langkah tersebut.
"Masyarakat menunjukkan ketidakpuasan yang besar terhadap solusi yang ada. Misalnya, meskipun banyak situs judi telah diblokir, angka perputaran uang judi online tetap tinggi. Ini menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diambil belum efektif. Sentimen negatif dari masyarakat ini mengindikasikan bahwa solusi yang diberikan tidak sesuai dengan harapan mereka," ujar Eko.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa pemerintah harus segera menangani masalah judi online dengan pendekatan yang menyeluruh. Menurut Eko, penanganan ini harus dilakukan dari kedua sisi, yaitu hulu dan hilir.
"Pemerintah harus menangani masalah ini dari kedua sisi, hulu dan hilir. Pengembangan kebijakan yang mendukung produktivitas, penciptaan lapangan kerja yang memadai, dan upaya untuk memberantas judi online secara menyeluruh adalah kunci untuk mengurangi dampak negatifnya," ujarnya.
Ia berharap hal ini akan membantu masyarakat kembali ke kegiatan yang lebih produktif dan mengurangi ketergantungan pada judi online. Menurut Eko, jika pemerintah serius dalam upaya pemberantasan judi online, hal ini akan berdampak positif pada perekonomian negara.
"Mengurangi angka judi online secara signifikan akan membantu menstabilkan perekonomian kita dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Uang yang sebelumnya mengalir keluar negeri dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik," tambahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










