Bos Apindo: Belanja Pemerintah dan Konsumsi Domestik Jadi Pendorong Pertumbuhan di Kuartal IV-2025
Yosi Winosa | 5 November 2025, 17:19 WIB

AKURAT.CO Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai percepatan belanja pemerintah dan penguatan konsumsi domestik menjadi faktor krusial bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025.
Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani menyebut kedua instrumen tersebut dapat memberikan dorongan signifikan terhadap permintaan nasional menjelang akhir tahun.
Menurut Shinta, dari sisi permintaan, dorongan stimulus akan lebih efektif apabila ditujukan untuk memperkuat daya beli rumah tangga.
“Kalau mau didorong lebih besar lagi, harus ada tambahan dari dua sisi, yakni belanja pemerintah dan konsumsi domestik,” ujarnya usai menghadiri Economic Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Dirinya mengatakan momen Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menjadi katalis penting bagi konsumsi masyarakat.
Aktivitas belanja masyarakat umumnya meningkat pada periode tersebut, sehingga mampu menggerakkan berbagai sektor, mulai dari ritel, transportasi, hingga pariwisata.
Shinta juga menyoroti paket stimulus ekonomi 8+4+5 yang telah diluncurkan pemerintah. Paket tersebut dinilai tidak hanya menyasar sisi penawaran, tetapi juga memperkuat sisi permintaan melalui berbagai insentif konsumsi, bantuan sosial, dan stimulus fiskal lainnya.
“Yang penting itu daya beli. Kalau daya beli kuat, ekonomi bergerak. Jadi insentif-insentif harus diarahkan agar masyarakat mau belanja,” katanya.
Shinta menggarisbawahi bahwa percepatan realisasi belanja pemerintah menjadi unsur penting lain yang dapat memperkuat pertumbuhan di triwulan IV.
Menurutnya, belanja APBN, terutama belanja modal dan perlindungan sosial, berperan strategis dalam memicu perputaran ekonomi daerah.
“Pemerintah perlu mempercepat belanja, karena itu bisa membantu mendorong konsumsi rumah tangga yang menjadi kunci pertumbuhan,” lanjutnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 mencapai 5,04% (yoy).
Sumber pertumbuhan terbesar berasal dari konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 2,54%, menunjukkan kuatnya peran konsumsi sebagai penopang ekonomi nasional.
Selain konsumsi rumah tangga, pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut juga ditopang oleh net ekspor dengan kontribusi 2,15% dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang menyumbang 1,59%.
Struktur PDB menunjukkan konsumsi rumah tangga mencakup 53,14% dari total PDB, menjadikannya komponen terbesar dalam perekonomian Indonesia.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 4,89% (yoy), didorong kuatnya sektor transportasi dan komunikasi, serta meningkatnya aktivitas di restoran dan hotel.
Pemulihan mobilitas dan aktivitas wisatawan domestik turut mempercepat pemulihan sektor-sektor berbasis layanan.
Dari sisi produksi, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan kuartal III dengan andil 1,13%.
Industri ini terus menjadi motor utama ekonomi nasional karena kontribusinya yang besar terhadap nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja.
Melihat komposisi pertumbuhan yang masih bertumpu pada konsumsi, Shinta menekankan pentingnya menjaga iklim usaha yang stabil dan mendukung daya beli.
“Konsistensi kebijakan dan percepatan stimulus akan sangat menentukan kinerja ekonomi di akhir tahun,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










